Tanggapan terhadap artikel yang dipos oleh Sayyid Ahmed Amiruddin

Tanggapan terhadap artikel yang dipos oleh Sayyid Ahmed Amiruddin
http://ahmedamiruddin.wordpress.com/regarding-lines-of-succession-to-shaykh-nazim/

 

“Patuhi  Allah, patuhi Rasul dan ulil amri di antara kalian.”

Mawlana Syekh Nazim (semoga Allah memberkati ruhnya) telah berulang kali mengatakan bahwa Grandsyekh mempunyai dua khalifah lainnya di samping beliau.   Kedua khalifah itu adalah Mawlana Syekh Adnan Kabbani (quddisa sirruh) dan Mawlana Syekh Hisham Kabbani (quddisa sirruh).  Merupakan tugas setiap orang untuk menegaskan hal ini sekarang ini.

Itu artinya setelah Mawlana Syekh Nazim, kedua khalifah ini adalah nama-nama berikutnya di dalam silsilah kita.  Ilmu yang Menyelamatkan dan Rahasia Jalan ini berasal dari mereka.  Orang yang berusaha untuk mengutak-atik urutan itu—yang merupakan Wasiat Grandsyekh dan Perintah Mawlana—berarti membuat masalah di dalam tarekatnya sendiri dan dengan demikian ia akan terputus: mereka tidak mengikuti siapa-siapa melainkan ego, nafs-nya sendiri.  Jika ada yang salah di antara kata-kata ini, saya mempersilakan untuk dikoreksi oleh Mawlana Syekh Adnan atau oleh Mawlana Syekh Hisham.

Jika kedua khalifah ini tidak mengatakan hal ini dan mengumumkannya, karena ketawadukan mereka, maka kita sebagai pecinta dan murid harus mengungkapkan dan mendeklarasikan yang Haqq sebagaimana sudah sangat jelas dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim berulang-ulang!  “Jadilah pembela kebenaran.”  Guru kita juga berkata, “Barang siapa yang menyaksikan kebatilan tetapi diam, bukannya mengatakan yang benar, ia laksana Setan yang bisu.”

Selain itu, sebagai tambahan dari ketentuan Grandsyekh dan Mawlana Syekh Nazim (semoga Allah memberkati ruh mereka) yang masih berlaku ini, Mawlana Syekh Nazim juga telah mengumumkan seorang khalifah utamanya, yaitu putranya sendiri yang bernama Syekh Mehmet, yang dicintai dan dihormati oleh kita semua.  Mawlana mengatakan, “Ia adalah bagian dari Silsilah kita juga.”  Kata “juga” yang dimaksud Mawlana Syekh Nazim artinya “bersama dengan kedua khalifah yang telah ditunjuk masuk ke dalam silsilah tersebut oleh Mawlana Syekh Abd Allah al-Daghistani sebelumnya.” Jika ada orang yang menyangkal hal ini, silakan maju dan bicara; jika ada yang salah di antara kata-kata ini, saya mempersilakan untuk dikoreksi oleh Mawlana Syekh  Adnan atau oleh Mawlana Syekh Hisham atau oleh Mawlana Syekh Mehmet (semoga Allah memberkati mereka semua).

Jadi, ada tiga khalifah utama yang otoritasnya menggantikan yang lain dan yang kita semua akui secara ekslusif dari orang lain, baik dekat maupun jauh.  Walau demikian, aturannya tetap—dan ini adalah poin terakhir—bahwa di dalam Tarekat ini, sejak awal sebagaimana pada semua tarekat, yang berlaku adalah bahwa sapilah yang menarik gerobak, bukan sebaliknya.  Jadi, silakan tarik kesimpulan sendiri terkait hadits, “Barang siapa yang tidak mengetahui hak-hak orang yang lebih tua dari kita terhadap kita, maka ia bukanlah salah satu dari kita.”

Kita patut beruntung untuk setidaknya membuat niat untuk mengetahui dan membela hak-hak orang-orang tua kita sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan Nabi (s), dan oleh Grandsyekh dan Mawlana Syekh Nazim!

Adapun untuk ratusan khalifah lainnya di seluruh dunia—mereka yang sudah meninggal dunia atau yang masih bersama kita—mereka semua adalah sinar dari megasupernova yaitu Mawlana, namun tidak satu pun dari mereka yang dapat membawa Warisan Nabi (s) dan apabila di antara mereka ada yang mengaku mempunyai kemampuan itu, pada hakikatnya itu palsu.  Mereka menginginkan bay’at dari orang lain, tetapi bahkan mereka sendiri tidak dapat memperbaiki dirinya, belum lagi ketidakmampuan membawa diri mereka atau yang lain kepada Nabi (s).  Jadi, mereka semua akan berhasil hanya jika masing-masing mengetahui posisinya dan menjaganya.  Artinya, jika kalian tidak bisa mengikuti, paling tidak bekerja sama; jika tidak bisa juga, paling tidak jangan menghalangi!  Kalau tidak bersiaplah untuk kecewa, dan Allah adalah tempat kami berlindung. 

wassalam,

Hajj Gibril

http://eshaykh.com/sufism/post-of-sayyid-ahmed-amiruddin/

About Nazimiyya Indonesia

Naqshbandi Nazimiyya Indonesia adalah sebuah organisasi non profit yang mewadahi kegiatan jemaah Tarekat Naqsybandi Nazimiyya di Indonesia, di bawah bimbingan Mursyid Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (q) dan khalifahnya, Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q).

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: