Adab terhadap Orang yang telah Meninggal Dunia

Posted on December 3, 2011 by Shaykh Muhammad Hisham Kabbani

 

Pertanyaan:

As salaamu alaikum warahmathullah ya seyidi

Saya ingin tahu mengenai maqam Bawa Muhaiyaddiin?  Karena saya merasa sulit untuk memahami beberapa ucapannya.  Jazak allah ya seyidi

 

Jawaban:

Wa `alaykum salam,

Allah (swt) yang menilai orang, dan Allah Maha Tahu, jadi lakukan amal Anda sendiri dan jangan mencoba untuk menggali-gali.  Ada ungkapan dalam bahasa Arab yang berbunyi, “Barang siapa yang turut campur dalam urusan yang bukan urusannya, ia akan mendapat sesuatu yang tidak akan membuatnya bahagia.”

 

Di dalam Mazhab Imam Abu Hanifa, ketika seseorang meninggal dunia, setelah melakukan salat jenazah, imam akan menengok ke belakang dan bertanya kepada orang-orang yang melakukan salat jenazah, “Bagaimana kalian melihat pria atau wanita ini?”  Orang-orang harus menjawab.  Jika 40 orang mengatakan bahwa semasa hidupnya ia adalah orang yang baik, Allah (swt) akan mengirimkan orang itu ke Surga karena hamba-hamba-Nya menilai bahwa ia adalah orang yang baik, sehingga Allah (swt) akan memasukannya ke Surga.  Jadi, di dalam Mazhab Hanafi, merupakan suatu prinsip di mana seorang imam bertanya kepada orang-orang yang menyalatkan jenazah, “Bagaimana kalian menilai orang ini?”   Adabnya adalah mengatakan bahwa ia adalah orang yang baik.  Jika ia bukan orang yang baik, mereka tidak akan menyalatkannya, jadi jika kalian dapat mengumpulkan 7 sampai 40 orang yang mengatakan bahwa orang itu adalah orang yang baik, maka Allah akan memasukannya ke dalam Surga.  Jika 40 orang mengatakan bahwa pir atau imam atau hakim ini baik, maka kita tidak berhak lagi mengatakan sesuatu yang buruk mengenainya.

 

Saya perhatikan di sini bahwa kebanyakan orang Bangladesh, Pakistan dan India adalah Hanafi.  Mereka tidak melakukan hal itu, padahal itu adalah sebuah prinsip di dalam Fiqh Hanafi.  Tidak ada orang yang akan mengatakan, “Orang itu adalah orang yang buruk” karena mereka merasa malu untuk mengatakannya.  Jadi Imam Abu Hanifa memasukan prinsip itu dan sudah tentu hal itu dapat ditelusuri kembali kepada Nabi (s), dan hal itu memperlihatkan bahwa Nabi (s) ingin agar umatnya masuk Surga, karena orang-orang di belakang imam sudah tentu akan mengatakan bahwa ia adalah orang yang baik, kalau tidak, mereka tidak akan melakukan salat jenazah untuknya.

 

Syekh Muhammad Hisyam Kabbani

http://eshaykh.com/sufism/bawa-muhaiyaddeen/

About Nazimiyya Indonesia

Naqshbandi Nazimiyya Indonesia adalah sebuah organisasi non profit yang mewadahi kegiatan jemaah Tarekat Naqsybandi Nazimiyya di Indonesia, di bawah bimbingan Mursyid Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (q) dan khalifahnya, Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q).

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: