Menjamak Salat

Posted on July 8, 2013 by Shaykh Gibril Fouad Haddad

 

Pertanyaan:

Semoga Allah selalu memberkatimu dalam kesehatan dan kebahagiaan.  Teman-teman saya bertanya apakah mereka boleh menjamak salat meskipun mereka tidak bepergian, melainkan ada rapat atau terjebak dalam kemacetan agar mereka tidak melewatkan salat tersebut.  Saya katakan bahwa selalu ada waktu rehat dalam rapat yang panjang dan dalam kemacetan saya selalu melakukan salat di dalam mobil.

1) Bagaimana aturan mengenai hal ini Sayyidi?  Dapatkah kita menjamak salat karena takut kehilangan salat tersebut dengan alasan rapat atau terjebak macet?

2) Bagaimana aturan mengenai salat di jalan?  Apakah kita harus menghadap kiblat?

Syukran

 

Jawaban:

Alaykum Salam,

Amin, semoga Allah memberkati Anda dan keluarga.  Ini adalah sebuah pertanyaan yang baik dan penting.

Berdasarkan kondisi tertentu,

1. Jika seseorang mendapatkan dirinya terjebak dalam kemacetan dan takut bahwa waktu salat akan habis, ia dapat melakukan salat sambil duduk dengan arah sesuai dengan jalur yang ditempuhnya dan ketika ia sampai di rumah, ia dapat mengulangi lagi salatnya sebagaimana semestinya.  Inilah yang pernah dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (semoga Allah memberkatinya dan memanjangkan umurnya).  Jika ia tidak mempunyai wudu, maka ia dapat melakukan tayammum.

2. Ketika seseorang merasa takut bahwa ia akan kehilangan salat Ashar, ia boleh menggabungkannya dengan Salat Zhuhur pada waktu ia melakukan Salat Zhuhur, artinya dikerjakan terlebih dahulu.  Namun demikian skenario di atas hanya berlaku bila seseorang tidak mempunyai kontrol terhadap situasi dan kondisi yang dialaminya, misalnya ketika ia berada di dalam bus, atau kereta api, atau pesawat, atau ketika terlalu berbahaya untuk berhenti dan melakukan salat.

Lebih jauh lagi, itu adalah kejadian yang berlangsung sekali-kali, bukan kejadian yang reguler dan berulang.  Tetapi ketika orang bepergian setiap hari di suatu kota yang diketahui seringkali mengalami kemacetan panjang, maka mereka harus membuat rencana yang sesuai dengan kondisi itu dan mereka tidak boleh menganggap ringan salatnya.  Oleh karena itu, bila orang memiliki kontrol, misalnya:

– berada dalam suatu kelompok di mana mereka yang menyetir sendiri atau dapat meminta sopir untuk berhenti,
– dan mereka berada di kota Muslim yang banyak terdapat masjid dan mushala,
– dan mereka bergerak melewati kemacetan yang parah dan melewati waktu salat yang reguler,

Maka tidak ada alasan bagi mereka untuk melewatkan salat.

Jika seseorang harus berhenti untuk mengambil hadiah sebesar 100 dolar, orang itu akan berusaha dan memastikan untuk mengambilnya, baik macet atau tidak.  Seseorang mungkin akan merasa kurang nyaman untuk berhenti karena mungkin mereka mempunyai suatu acara atau rapat, tetapi sekali lagi ini bukan alasan untuk melewatkan salat atau melakukan salat seperti seorang musafir.

Lebih jauh lagi, bahkan seorang musafir pun harus melakukan salat dengan berdiri dan sujud untuk salat fardu.  Apalagi untuk non-musafir.  Jadi biarkan para penyembah mengingat bahwa utang seseorang kepada Allah patut dibayar dan amal pertama yang akan diaudit di dalam kubur adalah salat.

Hajj Gibril Haddad

http://eshaykh.com/ibadat-worship/salat-prayer/jamak-prayer/

About Nazimiyya Indonesia

Naqshbandi Nazimiyya Indonesia adalah sebuah organisasi non profit yang mewadahi kegiatan jemaah Tarekat Naqsybandi Nazimiyya di Indonesia, di bawah bimbingan Mursyid Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (q) dan khalifahnya, Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q).

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: