Sekali lagi mengenai Mencium Tangan Syekh

Posted on July 15, 2013 by Taher Siddiqui

 

Pertanyaan:

Kami masih melihat beberapa orang yang keberatan dengan Mawlana Syekh Nazim yang menyebut dirinya Sulthan al-Awliya.  Mereka juga berulang kali mengungkapkan keberatannya mengenai mencium tangan.

 

Jawaban:

wa `alaykum salam,

Syekh Hisyam telah mengklarifikasi bahwa Mawlana Syekh tidak pernah mengklaim dirinya sebagai Sulthan al-Awliya, tetapi murid-muridnyalah yang  menganggapnya demikian.  Beliau hanya mengatakan, “Aku bukan apa-apa; aku adalah hamba Allah yang sederhana; aku adalah yang paling lemah dan tak berdaya.”

 

Mengenai mencium tangan, Mawlana Syekh sendiri menyampaikan hal ini secara mendetail (dikutip dari  interview on Sufismus-online):

 

T: Orang-orang keberatan melihat tangan Anda dicium.

S.N: Saya bukan seorang Sultan.  Biarkan orang-orang pergi dan mencium tangan-tangan mereka!  Orang-orang ini merasa iri, karena mereka tidak memberi penghormatan tinggi kepada Tuhannya.  Jika mereka memberi penghormatan yang tinggi, orang-orang akan menghormati mereka.  Mungkin saya dihormati dalam Hadirat Ilahi dan itulah sebabnya orang-orang berdatangan menemui saya.   Saya tidak meminta mereka untuk datang dan mencium tangan saya!  Merekalah yang berdatangan dari segala penjuru dunia dan saya tidak menyuruh mereka untuk pergi.  Untuk apa?  Apakah tangan saya kotor?  Jika ya, saya akan mencegah mereka melakukannya.

 

Tetapi tangan orang-orang yang menentang hal ini adalah kotor dengan pekerjaan kotor mereka.  Ketika orang mendatangi seseorang yang diberkati, mereka merasakan kedekatan dan ingin mencium dan memeluknya.  Ketika seseorang ingin memperlihatkan penghormatan mereka dengan mencium tangannya, itu tidak dilarang dalam Syariah Islam.  Tidak ada yang dapat memberikan bukti bahwa Nabi Muhammad (s) tidak memperbolehkannya.

T: Tetapi bukan hanya pria yang mencium tangan Anda, tetapi wanita juga.  Apakah itu diperbolehkan di dalam Islam?

 

S.N: Apakah mereka mempunyai bukti mengenai hal itu?  Jika hal itu dilarang, kami tidak akan diperbolehkan untuk mendekati wanita-wanita kami.  Mereka tidak mempunyai fiqr [baca – fiqh]. (Quran, Surat 4, Ayat 43 {atau kamu telah menyentuh perempuan } dan Surat 5, Ayat 6 {atau kamu telah menyentuh perempuan }).  Kalian boleh menyentuhnya.

T: Untuk mahram, atau…?

 

S.N: [Surat] ..an-Nisaa, adalah alif lam [yakni al-nisaa] menandakan untuk semua wanita, atau hanya untuk sebagian?  Ada hakikat rahasia di sana:  kalian boleh menyentuh seorang wanita, tetapi jika ego kalian bangkit dengan nafsu yang buruk, maka hal itu dilarang.  Seseorang boleh menyentuh anak perempuannya atau ibunya dan itu tidak dilarang.  Ia boleh menyentuh istrinya tetapi itu juga bisa dilarang.  Tidak ada yang bangun dalam diri seseorang dengan mahramnya, tetapi bila bukan mahram, itu berbahaya.  Itulah sebabnya Syariah melarang kalian untuk bersentuhan dengan tanpa alasan.  [Tetapi dengan alasan tertentu diperbolehkan], bila tidak, maka dokter tidak dapat menyentuh tubuh seorang wanita.  Tidak ada seorang pun yang merasa keberatan dengan jutaan wanita yang setiap hari pergi ke dokter dan memperlihatkan segalanya.  Hal itu tidak ada di zaman Nabi (s).  Ketika mereka melahirkan, mereka memperlihatkan diri mereka sepenuhnya!  Bagaimana bisa?  Mengapa orang tidak keberatan dengan hal itu?  Mereka malah datang kepada saya, kepada orang yang usianya sudah 80 tahun!

 

Syariah mengizinkan tangan Nabi-Nabi dan para pewarisnya untuk dicium.  Saya tidak mengatakan kepada para wanita untuk datang dan mencium tangan saya. Tidak!  Mereka datang untuk memberi penghormatan mereka.  Saya tidak dapat menolaknya, karena saya menyerukan orang-orang Eropa, yang non-Muslim, ke dalam Islam.  Mereka masih baru dan jika saya melarang mereka untuk mencium tangan saya, hati mereka akan terluka.  Mereka akan menuduh bahwa Islam tidak mempunyai kelembutan.  Kita tidak hidup di Saudi Arabia, Libya, Aljazair, Turki, Iran atau di Pakistan!  Saya menyeru orang-orang di sini, di Eropa.   Inilah sebabnya kita dapat meniru metode yang digunakan oleh Nabi (s) pada periode awal Islam.  Pada saat itu orang-orang juga tidak menggunakan kerudung.   Selama 13 tahun pertama di Mekah, mereka bercampur dengan bebas dengan kaum pria dan tidak memakai kerudung.  Semua yang datang ke Madinah.  Orang-orang ini yang menuduh saya mengenai hal ini tidak mempunyai pemahaman tentang Islam.  Mereka adalah para cendikiawan, tetapi kosong!

 

T:  Menurut Mazhab Hanafi, bagaimana hukum seorang wanita yang menyentuh Anda tanpa hawa nafsu?  Apakah Anda memerlukan wudu?

 

S.N:  Keempat mazhab sependapat mengenai hal ini, tetapi kemudian Imam Syafi’i melarangnya.  Beliau ingin menutup pintu fitnah yang muncul dari muda-mudi yang saling bersentuhan.  Abu Hanifa membolehkannya dengan satu syarat: jika perasaan kalian tidak berubah dan menjadi haram, maka itu diperbolehkan.  Jika ya, maka di dalam Mazhab Hanafi hal itu juga dilarang.  Ketika perasaan menjadi berubah, tubuh kita terbangun dan (tubuh) kita mengeluarkan sesuatu, membuat wudu kita menjadi batal.

 

Lihat juga Klarifikasi yang jelas dari Syekh Gibril:

 

“Dari sudut pandang Syariah, bersentuhan tangan antara jenis kelamin yang berbeda adalah salah, bagi seseorang yang belum berusia lanjut.  Pada saat yang sama, kenyatannya kondisi dakwah di Barat bagi seorang Syekh Sufi yang dapat diakses sepenuhnya oleh ratusan orang dalam sehari dalam setiap kunjungan mereka membuat kontak semacam itu menjadi hal yang tidak dapat dihindari.  Ini tidak ada hubungannya antara otak versus pembukaan kalbu.  Tetapi itu adalah masalah kepraktisan.

 

Bukti terkuat untuk keabsahan bersyarat mengenai situasi khusus bagi da`i ini barangkali adalah Hadits Anas dalam al-Bukhari, di mana budak-budak wanita di Madinah akan memegang tangan Nabi (s) untuk meminta segala keperluan yang mereka inginkan.

 

Makna dari hal ini adalah bahwa bahkan golongan berpendidikan terendah dalam masyarakat pun mempunyai akses penuh terhadap Nabi (s) dan bahwa tidak ada setitik kesombongan pun di dalam dirinya (s), sehingga al-Bukhari menempatkan riwayat ini dalam bab mengenai kibr di dalam kitab mengenai adab dalam Sahih-nya.

 

Ini adalah sebuah bukti adanya kelonggaran untuk bersalaman secara pasif bagi para da`i di Barat—dan Allah Maha Mengetahui.”

 

Saya mendengar dari Suhayl al-Omani di Damaskus pada bulan Mei 2002, dari gurunya Syekh `Isa al-Himyari dari Dubai bahwa ketika Syekh `Isa berada di Jerman beberapa tahun yang lalu bersama Mawlana, ia menyaksikan seorang wanita mendatangi Mawlana dan mencium tangannya.  Dalam hatinya Syekh `Isa berkata, “Seharusnya hal ini tidak boleh terjadi, engkau adalah seorang Syekh terhormat dan seharusnya tidak melanggar Syariah.”

 

Syekh `Isa berkata bahwa Mawlana [Syekh Nazim] kemudian memandangnya dan berkata, “Aku tahu apa yang kau katakan.  Ingatkan aku untuk membicarakan hal itu nanti.” Kemudian Mawlana berkata kepadanya bahwa sebelumnya beliau tidak memperbolehkan hal itu namun wanita-wanita di Barat merasa direndahkan.  Beliau lalu bertemu Nabi (s) di dalam mimpinya dan Nabi (s) memberi izin kepadanya untuk membolehkan mereka mencium tangannya.”

 

[Saya tambahkan:] Oleh karena itu perubahan dalam pendekatan, karena sebuah mimpi merupakan hal yang kuat bagi orang yang menerimanya, dan ini mengkonfirmasi suatu pendapat hukum bagi kondisi pengecualian bersyarat (yaitu, bahwa mimpi itu tidak membangun Syariah, namun menunjuk dari otoritas Syariah tertinggi bagi kemungkinan yang sudah dianggap dalam Syariah).

 

Kesimpulannya, sejauh yang dapat dipastikan mengenai posisi Mawlana [Syekh Nazim] dalam hal ini adalah:

(1) `Umum al-balwa – prevalensi ketidaktahuan umum dalam Islam, memerlukan tersedianya pemancar Islam yang lengkap kepada masyarakat termasuk kebiasaan dalam kontak fisik, misalnya dalam berjabat tangan atau mencium tangan;

 

(2) Dakwah di Barat, yang sifat alaminya belum pernah terjadi sebelumnya, memerlukan ukuran-ukuran yang belum pernah terjadi sebelumnya, terutama karena di Barat menghindari setiap kontak fisik dengan lawan jenis dianggap sesuatu yang menghina dan merendahkan, sama halnya dengan menghindari kontak mata;

 

(3) Usia Mawlana”

 

[Saya tambahkan:

(4) Keikhlasan Mawlana merupakan penghalang internal yang paling solid dalam menghadapi penyalahgunaan hal itu].

 

Dan akhirnya, jawaban sebelumnya dalam eShaykh mengenai mencium tangan seorang Syekh.

 

Taher Siddiqui

http://eshaykh.com/sufism/kissing-shaykh%E2%80%99s-hand-revisited/

About Nazimiyya Indonesia

Naqshbandi Nazimiyya Indonesia adalah sebuah organisasi non profit yang mewadahi kegiatan jemaah Tarekat Naqsybandi Nazimiyya di Indonesia, di bawah bimbingan Mursyid Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (q) dan khalifahnya, Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q).

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: