Asal Mula Tembakau

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani| Senin, 21 September 2009 | Fenton, MI

 

 

A`udzu billahi min asy-Syaythan ir-rajiim

Bismil-Lahi’ r-Rahmani ‘r-Rahiim.

Nawaytu ‘l-arba`in, nawaytu ‘l-`itikaf, nawaytu’l-khalwa, nawaytu ‘l-`uzla, nawaytu ‘r-riyadha, nawaytu ‘s-suluuk, lillāhi ta`ala fī hadza ‘l-masjid.
Athi` Allah, wa athi` ar-Rasul, wa uli ‘l-amri minkum. (4:59)

Apa yang kita bicarakan sebelum salat tadi?  Oh ya, Ya Halim!  Beberapa orang, dan ini adalah masalah yang kita hadapi pada zaman sekarang, kita semua, kita semua mempunyai masalah ini sekarang, tidak terkecuali.  Bahkan awliyaullah, mereka juga mempunyai masalah ini tetapi untuk alasan yang berbeda.  Setiap orang memiliki amarah.  Amarah, semua orang memilikinya.  Bahkan awliyaullah memiliki amarah, tetapi amarah mereka untuk haqq, untuk sebuah alasan.  Amarah mereka membersihkan (menghindarkan) kalian  dari masalah, dari kesulitan.  Ketika Rasulullah (s) mengatakan sesuatu dengan nada yang tidak senang, itu memberikan manfaat bagi Sahabat – beliau (s) menghindarkan mereka dari cobaan.

Tetapi karakter buruk tersebut (amarah) ada pada setiap orang.  Setiap orang mengatakan bahwa mereka benar dan orang lain yang salah.  Pada kenyataannya kedua belah pihak salah.  Tetapi mungkin yang satu tidak semarah yang lain.  Seperti kedua orang ini, jika mereka adalah satu negatif dan satu positif mereka akan bekerja sama.  Tetapi keduanya negatif, jadi mereka saling tolak-menolak (bertentangan satu sama lain, atau tidak dapat bekerja sama). Setidaknya yang satu harus positif dan yang lain harus negatif, kerja sama akan terjalin.  Yang satu harus bersabar atas yang lain, maka kerja sama akan terjalin.

Apakah kalian membaca Qur’an?  [Kadang-kadang].  Apakah kalian mencintai al-Qur’an?  [Ya].  Apa yang kalian cintai tidak kalian tinggalkan di rak buku.  Jika kalian menyukai sekuntum mawar, apa yang kalian lakukan?  Kalian mencium mawar tersebut.  Jika kalian menyukai parfum, kalian mencium parfum tersebut.

Berapa macam jenis parfum yang ada?  Saya mengunjungi seseorang yang tahu tentang seluk-beluk parfum di Mesir. Di etalasenya dipajang ribuan parfum dengan wangi dan nama yang berbeda.  Mereka menyebutnya …, diambil dari berbagai jenis pohon atau bunga atau misik atau amber.  Kalian tahu apa yang ia  katakan pada saya?  Ia berkata, “Semua yang kami pajang di sini… semua mempunyai kemasan yang menarik, dan setiap orang mengira itu semua dari India, Pakistan, Timur Jauh, ini dari negara ini dan itu dari negara itu…”  Lalu ia melanjutkan, “Sebenarnya semuanya dari barat.  Mereka mengambil esens (sari) dari parfum yang asli, kemudian mereka mengencerkannya – jadi itu semua adalah sintetis (buatan) dan dibuat di laboratorium-laboratorium di New York.  Dan semuanya kami beli dalam partai besar, kami campurkan dengan sedikit bahan kimia, masukkan dalam botol-botol kecil, lalu kami jual.”  Dan orang-orang yang datang dan membeli parfum akan berkata, “Aku membelinya di Mekah” atau “Aku membawanya dari Madinah.”  Kebanyakan orang polos, jadi mereka percaya.  Tetapi semua parfum itu dibuat di tempat lain dan bukan dari sumber yang sebenarnya, yakni sumber-sumber alami.

Kita semua palsu.  Mereka semua palsu.  Kita semua palsu dengan bau yang berbeda-beda. Keegoisan kita, kelakuan ego kita palsu.  Allah (swt) memberi kehormatan pada tubuh kita dengan aroma asli, wangi yang sebenarnya.  Wa laqad karamnaa Banii Aadam (17 :70).  Allah (swt) memberikan kehormatan kepada kita tetapi kita memalsukannya dengan bau busuk yang berbeda-beda, bau yang menutupi aroma asli dari parfum yang Allah (swt) telah karuniakan kepada kita.

Apakah kalian mencintai Qur’an?  [Ya].  Apakah kita membaca Qur’an?  [Ya].  Bahkan jika jawaban kalian adalah tidak, katakan saja “Ya” dengan niat yang baik karena kalian tidak tahu bagaimana cara membaca al-Qur’an.  Jadi apa yang harus kalian lakukan?  Kalian harus belajar.  Itu adalah hal pertama yang harus kalian lakukan jika kalian benar-benar mencintai al-Qur’an.

Sebagaimana dikatakan oleh Grandsyekh, karena kita memiliki fitrah sebagai manusia, berarti karena itu kita mempunyai cinta, Allah (swt) membimbing setiap orang ke arah yang benar.  Tetapi kita telah memilih, orang tua kita telah memilih untuk kita, arah yang berbeda.  Orang-orang yang orang tuanya telah memilihkan untuknya arah yang benar, mereka adalah orang-orang yang beruntung.  Orang-orang yang tidak (tidak dipilihkan arah yang benar), mereka tidak beruntung.  Itu sebabnya dalam sebuah hadis Rasulullah (s) bersabda, “Allah (swt) menciptakan manusia dalam keadaan fitrah (murni),” dengan aroma yang wangi, bukan sintetis seperti yang mereka jual sekarang di toko-toko.  Ketika kalian memakai parfum tersebut ke tangan kalian, tangan kalian terasa berminyak.  Apa yang mereka campurkan ke dalamnya (dalam parfum tersebut)? Mungkin oli mobil.  Esens parfum (parfum asli), jika kalian memakainya, tidak akan terasa selengket itu.  Beberapa parfum yang datang dari anak benua, tanpa menyebutkan negaranya, kalian akan merasa itu minyak, tidak murni.  Dan ahli parfum dari Mesir ini mengatakan pada saya bahwa semuanya (parfum-parfum tersebut) sintetis, semua parfum-parfum itu tidak asli, buatan.

Jadi kita mencoba untuk menyemprotkan parfum palsu tersebut ke diri kita, tetapi aroma yang asli ada dalam diri kita sendiri.  Di manakah aroma dari ikan paus (amber)? Ia ada di dalam limpanya.  Kita menyebutnya amber.  Sepotong amber sekarang dijual 50-60 dolar, dalam bentuk kotak-kotak kecil.  Yang ini adalah palsu, ada campuran bahan-bahan kimianya.  Amber yang asli, yang diperoleh langsung dari ikan pausnya, padat dan berwarna hijau, dan satu kilonya lebih dari 50.000 dolar.  Awliyaullah memberi nasihat bagi orang-orang yang terkena stroke untuk meminum amber asli.  Masukkan satu sendok makan amber asli ke dalam air panas dan madu atau teh, aduk dan minum campuran tersebut; itu akan menyembuhkan mereka dari stroke (kelumpuhan).  Tetapi kalian harus mendapatkan (amber) yang asli.  Ada yang menjual yang asli tetapi itu sangat mahal.

Allah (swt) mengaruniakan amber asli (aroma asli) dalam diri kalian.  Al-Qur’an yang suci, ketika dibaca, akan merangsang keluarnya amber asli (dari diri kalian).  Oleh sebab itu malaikat-malaikat dapat mendekati kalian ketika kalian membaca Qur’an.  Itu sebabnya dalam salat, malaikat-malaikat datang – karena mereka (malaikat-malaikat tersebut) dapat menemukan kalian melalui aroma yang wangi tersebut.  Jangan katakan, “Aku harus menyikat gigiku untuk wawancara.”  Kalian tidak perlu (menyikat gigi).  Ketika kalian membaca Qur’an, malaikat-malaikat akan segera datang karena wangi harum yang terpancar.

Orang-orang yang merokok, rokoknya membakar mereka.  Grandsyekh berkata pohonnya rokok (tembakau) berasal dari kotoran Iblis.  Pada suatu waktu Iblis meminta izin untuk menjumpai Rasulullah (s) – lihat, Iblis tidak dapat menemui Rasulullah (s) tanpa meminta izin; dari siapa?  Dari Tuhannya.  Si terkutuk (Iblis) meminta izin karena ia tahu bahwa ia tidak dapat mendekat.  Izin diberikan, dan Jibril (as) menjumpai Rasulullah (s) dan mengatakan bahwa Iblis akan menemuinya dan inilah pertanyaan-pertanyaannya dan inilah jawaban-jawabannya. Kemudian Iblis datang dan Rasulullah (s) berkata, “Inilah pertanyaan-pertanyaanmu, ya la’iin, wahai yang terkutuk. Dan inilah jawaban-jawabannya,” Rasulullah (s) lalu meniup si Iblis.  Beliau (s) melemparnya sejauh tujuh bulan perjalanan kaki (pada masa itu beginilah cara mereka mengukur jarak), sangat jauh dalam sekali tiupan dari Rasulullah (s).  Karena Iblis datang untuk menebarkan fitnah, maka Allah (swt) ingin memberikan pelajaran padanya, Allah (swt) berkata, “Temuilah Rasul-Ku dan ia akan menunjukkan padamu apa yang akan ia lakukan.”  Si Iblis jatuh pingsan setelah dilempar (ditiup).  Grandsyekh berkata, “Ia (Iblis) tidak sadarkan diri selama tujuh bulan di dalam sebuah lubang, pingsan, tidak sadarkan diri.  Dan ketika siuman, ia muntah-muntah dan mengeluarkan kotoran dari kedua sisinya.”

(Tawa terdengar) Mengapa kalian tertawa?  Awliyaullah mengetahui hal-hal yang tidak kalian ketahui; mereka mengatakan hal-hal yang kalian tidak ketahui.  Ini adalah rahasia-rahasia!

(Kembali ke cerita Iblis tadi), ia terus-menerus muntah dan memenuhi lubang itu dengan muntahnya.  Itu (lubang tersebut) adalah jahannam (neraka) – yaslaha sa’iira dari api yang sangatlah besar, sangatlah kuat panasnya.  Yang dimaksud adalah orang-orang yang dihukum (di jahannam), tubuh mereka penuh dengan luka dan yang keluar dari luka-luka itu adalah nanah, dan Allah (swt) akan membuat mereka meminum nanah (dari luka-luka itu).  Dengan kekuatan panas tersebut Allah (swt) menghukum mereka.  Semua hukuman tersebut, dengan tiupan Rasulullah (s) pada Iblis, Rasulullah (s) membuang semua dosa manusia kepada Iblis tersebut (membuat Iblis memikul dosa-dosa tersebut).  Semua dosa yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan sampai Yawmil Hisab akan dipikulkan (oleh Rasulullah (s)) kepada Iblis, dan Rasulullah (s) melemparnya (Iblis itu).

Semua kotoran dari dosa-dosa dan kotoran dari perilaku dan karakter buruk Iblis keluar dari mulut dan bagian belakangnya!  (Tawa terdengar)  Mengapa kalian tertawa?  (Mawlana tersenyum) Anak-anak suka mendengar cerita semacam ini.  Kita (orang dewasa) tidak suka mendengar cerita semacam ini karena kita melakukan hal-hal tersebut (keburukan tersebut).

(Kembali ke cerita Iblis tadi) Selama tujuh bulan (kotoran) terus keluar darinya, tetapi masih banyak lagi yang tersisa padanya.  Kemudian ia membuka matanya, bangun, seperti (mendengar) jam weker.  Dibutuhkan waktu tujuh bulan agar semua (kotoran tersebut) terurai.  Ketika kalian membuang sampah, mereka akan mengumpulkan sampah tersebut dan membawanya ke suatu tempat.  Ketika sampah-sampah tersebut terurai apa yang akan terjadi?  Terurainya sampah-sampah tersebut akan menghasilkan gas yang berbau busuk – metana.  Ketika kalian melewati sebuah pembuangan sampah, kalian mencium bau tersebut dan melihat api.  Mengapa ia mempunyai bau busuk?  Mengapa tidak wangi yang harum?  Karena itu adalah sampah.   Dan apa yang dihasilkannya?  Api.  Jadi diperlukan api untuk membersihkannya.  Itu adalah sampah kalian dan sampah yang kita buang di tempat pembuangan sampah.  Semua orang membuang sampah di sana, dan kalian semua mencium bau tersebut karena sampah itu datang dari kita semua.  Jangan berpikir bahwa kita bersih.  Tidak!  Perilaku kita buruk.

(Kembali lagi ke cerita Iblis tadi)  Dari bau busuk yang keluar dari mulut dan bagian belakangnya, ia (Iblis) membuka matanya dan melihat; dan dirinya menjadi sangat gembira.  Baginya, kejadian itu adalah sebuah pesta besar.  Grandsyekh mengatakan bahwa ia (Iblis) tidak pernah mau bersujud, tetapi di sana ia bersujud satu kali.  Bukan karena ia sujud pada Adam (as). Bukan!  Ia tidak peduli; ia adalah yang terkutuk.  Tetapi ia bersujud untuk menunjukkan penghargaan pada dirinya sendiri, bukan pada Tuhannya.  Sebab Iblis itu seperti Fir’aun; ia berpikir bahwa ia adalah satu-satunya yang terpilih – Fir’aun berpikir bahwa dirinya adalah yang paling tinggi; anaa rabbukumul a’laa (79 :24) aku adalah tuhan yang paling tinggi.  Ia melakukan sujud pada dirinya, bukan pada Allah (swt).  Tidak, ia tidak tertarik untuk itu.  Ia melakukan sujud pada dirinya sendiri, bahwa ia sendirilah membuat kotoran tersebut dan dari kotoran tersebut tumbuh sebuah tanaman.  Lalu ia melihat pada tanaman tersebut dan berkata, “Oh, beginilah aku akan menipu manusia.”  Jadi ia merapikan tanaman tersebut, membuatnya tampak menarik, dan memulai bekerja secara intensif untuk menanamnya di seluruh dunia.  Ia sibuk dengan itu.

Iblis tahu bahwa ia tidak dapat mendekati para Sahabat – itu adalah perang yang membawa kekalahan baginya.  Ia berpikir, “Mengapa aku harus ke sana (menawarkan tanaman tersebut pada Sahabat Rasulullah?  Aku tidak akan berhasil karena kebenaran ada di sana, haqq ada di sana.  Jadi biarkan aku membangun kerajaanku, kerajaan kebatilan.”  Dan ia mulai menanam tanaman itu di berbagai negara di seluruh dunia.  Setelah Rasulullah (s) wafat, setelah para Sahabat wafat, Iblis itu pergi ke semua kerajaan atau negara di mana raja-raja, orang-orang penting, para cendikiawan duduk di sana.  Ia memetik daun tanaman tersebut, menggulungnya dan merokok dengan gulungan tersebut.  “Allahu akbar!  Akulah orangnya!  Cobalah, wahai saudaraku!  Cobalah, wahai saudariku!  Cobalah, wahai istriku!  Cobalah, wahai putraku!  Cobalah, wahai putriku!  Aaam.”  Apa yang terjadi?  Dan ia mulai menyebarkannya ke seluruh dunia.  Ia berkata, “Merokok?  Senang?!”  Ia berkata, “Aku akan memberikan mereka kotoranku!  Biarkan mereka menikmatinya.  Ini adalah hadiah dariku untuk mereka karena mereka adalah para pengikutku.  Oh, aku sangat gembira sekarang!  Oh, perasaanku meluap-luap!  Ya saudaraku, kita dapat membuat berbagai macam (rokok atau cerutu), salah satunya adalah cerutu Panama – cerutu terbaik yang tidak ada kertasnya, semuanya terbuat dari lembaran daun itu; kotoran semuanya!”  (Tawa terdengar) Mengapa kalian menutup telinga kalian? Kalian terjerumus sepenuhnya ke dalamnya dan kalian menutup telinga kalian?  Haqq!  Tentu saja ini haqq – ini adalah cerita dari Grandsyekh!

Profesor?  Para profesor ini tidak mengetahui cerita ini.  Mereka tidak punya pikiran (otak).  Mereka melakukan penelitian, dan kalian tahu apa yang mereka lakukan?  Mereka merokok (menghisap cerutu).  Seluruh penelitian mereka bercampur-aduk dengan muntah dan kotoran Iblis.  Mereka juga memakan dan meminumnya.  Beberapa dari mereka tidak hanya meminumnya, mereka menumbuk dan mengunyahnya.  Iblis menjadi sangat senang karena itu mereka diberi permen (oleh Iblis).  Ia (Iblis)  berkata, “Makan dan minumlah.  Tidak hanya itu, akan kuberikan juga pada kalian produk lain yang kualitasnya lebih bagus – ganja, mariyuana, kokain.”  Kokain?  Apakah itu terbuat dari tanaman tersebut?  (Bertanya pada seorang redneck; komentar penerjemah: redneck mungkin adalah sebutan untuk suku Indian atau orang dari Amerika bagian selatan) Terbuat dari apakah itu (kokain)? (Jawab redneck tersebut: Mariyuana, ganja, dan kokain terbuat dari tumbuhan, opium juga terbuat dari tumbuhan).

Ketika saya pergi ke Spanyol dan, maafkan saya karena saya menceritakan ini, tiga orang ini menyertai saya – yang ini seorang hafiz (penghapal dan pembaca Qur’an), yang ini menyanyikan qasidah dan yang ini mengurus urusan administrasi.  Mereka menyertai saya, dan mereka tinggal di salah satu apartemen.  Keesokan harinya, ketika kami akan melakukan salat tahajud, mereka tidak muncul.  Apa yang terjadi?  Ternyata ada orang-orang di lantai  bawah apartemen tersebut yang menghisap sesuatu (yang mengeluarkan asap, seperti merokok), dan asapnya naik dan memasuki kamar di mana mereka tidur.  Dan mereka mulai berputar-putar (karena mabuk).  Seperti ketika seseorang pergi ke Ka’bah, untuk tawaf, untuk menunaikan ibadah haji, dan ia membawa banyak bawaan (koper).  Di gerbang bea cukai, petugas bertanya, “Apa ini?  Terlalu banyak bawaan.  Banyak sekali makanan kaleng.  Untuk apa?”  Lalu ia berkata, “Karena aku tidak mau repot; aku tinggal buka, makan, dan buang.  Jadi aku bisa santai; aku tidak perlu mengantri untuk membeli (makanan).  Buka, makan, dan buang!”  Petugas itu berkata, “OK.  Mengapa kamu membawa ini?  Ini tidak diizinkan, ini haraam (dilarang) dalam Islam – anggur ini, alkohol?”  Ia berkata, “Tidak.  Aku berdiri di samping Ka’bah, minum, lalu Ka’bah berkeliling (berputar-putar) dan aku bisa duduk santai.”  (Tawa terdengar) “Aku santai.  Ka’bah akan berkeliling dan aku duduk.  Jadi aku telah melakukan tawaf.” (Tawa terdengar)

(Kembali lagi ke cerita para profesor yang ditawarkan tanaman itu oleh Iblis)  Para cendikiawan ini, mereka melakukan penelitian dan terkadang mereka membawa narghiila, waterpipe (sejenis shisha dari Timur Tengah, alat untuk menguapkan cairan dan uapnya dihisap melalui selang; penghisapan uapnya memberikan perasaan seperti mabuk), dan mereka meminumnya (menghisapnya).  Dan di negara kalian ada sesuatu (zat) yang mereka masukkan ke dalamnya (koka).  Oh, kalian tahu?  Saya dari sana dan saya tidak tahu; saya dari Timur Tengah tetapi saya tidak tahu.  Bagaimana kalian bisa tahu?  (Seorang jemaah menjawab: saya membaca mengenai itu) Mereka membuat presentasi (tesis mereka) yang penuh dengan kotoran Iblis.

Bahkan jika kalian memakai parfum dari seluruh dunia, kalian tidak akan membersihkan diri kalian sendiri karena semua kotoran kalian dibangun oleh amarah.  Itu sebabnya Rasulullah (s) berkata pada Sayyidina Abu Bakr (ra), “Ya Aba Bakr, al-ghadabu kufran, ya Aba Bakr – amarah adalah kekufuran.”  Kalian akan berada di luar Islam jika kalian marah.  Itu sebabnya kalian melihat mereka selalu marah; tidak semua, banyak yang tenang; mereka tidak merokok (menghisap apapun) alhamdulillah, dan tidak melakukan apapun (yang tidak baik).  Kalian tidak akan percaya kalau saya katakan pada kalian (ada di internet, saya tidak harus menceritakan pada kalian) tetapi ada pembaca-pembaca al-Qur’an yang tidak akan membaca (Qur’an) tanpa minum (alkohol).  Mereka berkata bahwa (meminum alkohol) itu memberi mereka cita rasa dan membuat mereka dapat membaca dengan baik.  Lihatlah, Setan  mempermainkan mereka sampai sejauh itu.  Bahkan mereka menjadi terkenal; suara mereka adalah suara terbaik.

Jadi apa yang tersisa dari iman kita?  Saya tidak berkata bahwa kita lebih baik, tetapi ini adalah penyakit yang merambat ke mana-mana.  Astaghfirullah al-azhim untuk diri kita sendiri, dan untuk mereka.  Mereka, kita semua membutuhkan syafaat Sayyidina Muhammad (s) – semua orang termasuk orang-orang yang merokok (termasuk yang menghisap zat yang memabukkan), yang minum (alkohol), orang-orang yang berbuat ini, orang-orang yang berbuat itu, orang-orang yang melalaikan salatnya.  Mereka semua, kita  membutuhkan rahmat dari Allah (swt) dan syafaat dari Sayyidina Muhammad (s) dan bimbingan dari awliyaullah.

Rasulullah (s) berkata bahwa barang siapa yang mencintai Qur’an harus membuang amarahnya: terutama orang Arab, yang berbicara dengan bahasanya Qur’an.  Mereka melakukan apa saja untuk menyiksa istrinya, dan sang istri juga berusaha melakukan segala hal untuk menyiksa suaminya.  (Itulah) orang Arab.  Kalau yang satu Arab dan yang lain bukan Arab, yang Arab mencoba menjatuhkan yang bukan Arab, prianya maupun wanitanya.  Dan kalau mereka (bukan Arab) berkebangsaan sama, mereka mempunyai masalah yang sama. Maka mereka pergi ke pengadilan. Kalian harus berlaku adil!  Kalian harus berlaku adil!  Kalau kalian benar-benar Muslim yang baik, kalian harus adil dengan istri kalian dan istri kalian juga (harus adil) dengan kalian.  Jangan mencoba membodohinya untuk mengambil uangnya, menipunya; dan ia (para istri) juga harus setia pada kalian, tidak menipu kalian.  Pecahkan masalah kalian sendiri.  Itu sebabnya orang yang terlatih untuk menghindari amarah dapat memecahkan dan menyelesaikan masalahnya (masalah rumah tangganya) di dalam rumahnya sendiri.

Mengapa harus pengadilan yang memecahkan masalah kalian?  Siapa hakim-hakim ini?  Mereka tidak tahu apa-apa tentang hidup kalian.  Pengadilan, apa yang mereka ketahui, penilaian mereka mungkin salah.  Setiap orang akan berusaha untuk mendapatkan pengacara terbaik, untuk apa? Karena kemarahan, untuk membuat pihak yang lain kalah.  Seperti pria ini… dia kalah.  Karena apa? Bolehkah saya ceritakan berapa besar kekalahanmu (di pengadilan)?  Ambil pelajaran!  Sekurang-kurangnya 700.000 dolar atau 800.000 dolar, atau lebih dari 800.000 dolar?  Sekarang dia (pria tersebut) telah mendapat pelajaran.  Setelah apa?  Setelah dia sudah berumur 60 (tahun)?  Dan ada juga beberapa wanita yang saya kenal, mereka tidak di sini, yang juga kalah (dalam pengadilan). Cobalah untuk menyelesaikan masalah (rumah tangga) itu di dalam rumah.  Jangan bawa masalah itu keluar.  Tidak seorang pun ingin membantu kalian; mereka ingin menolong diri mereka sendiri. (Apakah kalian pikir) hakim-hakim itu tidak minta bayaran?  Pengadilan tidak menagih pengeluaran kalian (atas kasus tersebut)?  Mereka menagih.  Apakah para pengacara itu tidak minta bayaran?  Pengacara yang satu akan berkata pada kalian, “Kamu punya hak,” dan pengacara yang lain (pihak lawan) akan mengatakan, “Kamu punya hak.”  Bagaimana kalian dapat tahu (siapa yang berhak)?  Kita tidak mengetahui siapa yang berhak.  Allah-lah yang tahu.  Fa man ‘afa wa aslaha fa ajruhu ‘ala Allah – siapa pun yang mengajak berdamai (islah) dan memaafkan, pahalanya adalah bersama Allah (swt).  Jika suami dan istri sedang berusaha memecahkan suatu masalah, kasus pengadilan atau masalah apapun, berdamailah!  Allah (swt) akan memberi kalian surga, di dunia dan akhirat.

Orang yang mencintai Qur’an tidak boleh mengatakan sesuatu yang tidak disukai oleh orang lain. Kalian harus selalu mengatakan hal-hal yang suka didengar oleh orang lain.  Jangan mengancam mereka.  Jangan tunjukkan bahwa kalian lebih tahu.  Wa man kaana fii hadzihii  a’ma fa huwa fi’l aakhirati a’ma wa adhallu sabiila (17 :72) – siapapun yang buta di dunia akan menjadi buta di akhirat.  Apa kalian pikir kita tidak buta?  Bagaimana kalian dapat menilai kebutaan?

Wahai Muslim sekalian (yang di sini, yang mendengar shuhbah ini, yang tidak mendengar shuhbah ini, yang di mana-mana), berusahalah untuk berlaku adil.  Jangan marah.  Pagi ini saya hampir saja marah, jadi saya menarik diri.  Ada masalah di luar negeri yang saya harus atasi, dan saya harus menelepon seseorang.  Seorang tamu datang berkunjung dan saya duduk bersamanya (menemaninya) selama 5-10 menit.  Lalu saya berkata, “OK, sekarang saya sudah senggang, saya akan menelepon ke sana,” datanglah tamu yang lain.  Saya berkata, “Oh!” tetapi saya tetap melayani tamu tersebut.  Kemudian ia (tamu tersebut) selesai (pergi), jadi saya berkata, “Sekarang saya akan menelepon.” Tetapi kemudian, satu rombongan tamu datang; saya katakan pada Hajah untuk mengatakan pada mereka bahwa saya telah menemui mereka semua, jadi saya tidak akan menemui mereka.  Hajah menemui mereka dan berkata, “Beliau telah menemui kalian.”  Dua wanita dalam rombongan tersebut berkata pada Hajah, “Beliau belum menemui kami (berdua),” dan mereka benar; dua orang wanita dalam rombongan tersebut memang belum berbicara dengan saya.  Jadi, saya menemui mereka dan berbicara dengan mereka.  Karena saya telah memecahkan masalahnya, saya pikir saya bisa menelepon.  Lalu tamu yang lain datang dan yang lain lagi… sampai pukul 1:30.  Akhirnya saya menelepon dan berkata, “Saya akan meneleponmu nanti” karena Mawlana memberi pesan, “Oh, mereka adalah tamu-tamu Allah, bukan tamu-tamu engkau.”

Abu Hamid al-Ghazali, pada malam Mawlid, berhenti menulis agar seekor lalat dapat meminum tinta penanya.  Karena perbuatannya itu, Allah (swt) membukakan padanya pengetahuan spiritual.

(Kembali ke pesan Mawlana Syekh Nazim (q)) Mawlana berkata, “Mereka bukan tamu-tamu engkau, mereka adalah tamu-tamu Allah.”  Jadi saya menelepon dan berkata padanya, “Saya akan menelepon nanti.”

Kalian harus mengontrol amarah kalian; kalian tidak boleh meledak.  Saya mengatakan ini terutama pada banyak orang dari seluruh penjuru dunia yang datang untuk menemui Mawlana.  Atau ketika saya berpergian ke negara lain, saya mendengar (masalah yang sama), di sana juga ada (masalah rumah tangga yang dibawa ke pengadilan).  Suami ingin mengambil uang (harta) dari istrinya, istrinya ingin mengambil kembali uang (harta) tersebut, membawanya ke pengadilan.  Suami menyeleweng; istri menyeleweng.  Jadi pada akhirnya permasalahan tersebut menjadi sup (campur-aduk—penerj.).  Mereka berdua (kedua belah pihak) menangis di sana (di depan hakim di pengadilan).

Jadi jangan biarkan masalah tersebut terjadi dalam hidup kalian.  Pada awalnya kalianlah yang membuat keputusan untuk menikah, jagalah akad itu.  Jangan mencoba untuk membesar-besarkannya di depan para pengacara dan hakim.  Hal itu akan ditulis untuk memberatkan kalian di Yawmil Hisab.  Allah ahkamul haakimin – Allah (swt) adalah Hakim Terbaik. Jangan biarkan permasalahan tersebut sampai ke sana.  Selesaikanlah di sini.  Fa man ‘afaa wa ashlaha fa ajruhuu ‘ala Allah (42:40) – barang siapa yang memaafkan dan berdamai, Allah (swt) akan memberi mereka pahala.  Dapatkanlah pahala dari Allah (swt) dengan berkata, “Aku memaafkanmu.  Aku tidak ingin apapun.  Mari kita berbagi segala yang kita punya sebagaimana biasanya.”  Kedua belah pihak harus begitu, dan marilah kita memperoleh rida Allah untuk kita.  Allah (swt) akan mengirimkan lebih kepada keduanya.

Kita adalah saudara dalam tarekat yang sama.  Kita mempunyai ayah spiritual yang sama.  Jangan meributkan hal-hal yang tidak berguna.  Jangan berkata, “Aku lebih mencintai Syekhku daripada engkau.”  Kalian berdua mempunyai Syekh yang sama.  Mawlana pernah berkata pada saya, “Semua murid-muridku, mereka bagaikan permata di mahkotaku, dalam turbanku, yakni turban spiritual yang Allah dan Rasulullah (s) berikan padaku.  Mereka adalah permata di sana, tetapi permata yang berbeda-beda jenisnya – ada permata yang lebih berharga, yakni berlian, yang lain adalah batu-batu permata yang lain; tetapi kalau satu saja yang tidak berada di tempatnya, maka itu akan terlihat lucu.  Itu sebabnya saya memperlakukan mereka semua sebagai permata-permata di mahkota saya.”  Itulah Sultan al-Awliya; bahkan semua awliya berada di mahkotanya.  Sultaan, apakah (arti dari) sultaan?  Sultaan adalah raja dari kerajaan.  Semua awliya ada di mahkotanya, sebagai permata-permata di sana.  Tidak hanya awliyaullah, tetapi juga pengikut beliau yang lebih rendah tingkatannya.  Mereka juga ada di sana.  Marilah kita tidak memusuhi siapa pun.  Tidak ada seorang pun yang lebih baik dari yang lain dan bahkan jika mereka lebih baik, berusahalah untuk bersaing dalam kebaikan.

Wa min- Allahi taufiik. Fatiha. Taqabbal-Allah.

Sekarang mata mereka terbuka semua.  Ketika saya bicara mereka semua mengantuk, lihatlah pengaruh dari ego.  “Oh, aku mengantuk.”  Tidurlah, ini adalah waktu terbaik, tidak ada cahaya, ketika saya nyalakan lampu, mereka akan merasa kesal.  Terutama saat Fajar.  Kita harus selalu menyalakan cahaya kita dan `Eid Mubarak!  Ini adalah hari Ied kedua.

 

http://www.sufilive.com/rnd.cfm?m=1862

© Hak cipta 2013 oleh Sufilive.  Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Transkrip ini dilindungi oleh undang-undang hak cipta internasional.  Mohon menyebutkan Sufilive ketika membagi transkrip ini. JazakAllahu khayr.

About Nazimiyya Indonesia

Naqshbandi Nazimiyya Indonesia adalah sebuah organisasi non profit yang mewadahi kegiatan jemaah Tarekat Naqsybandi Nazimiyya di Indonesia, di bawah bimbingan Mursyid Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (q) dan khalifahnya, Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q).

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: