Laylat ar-Ragha’ib (Malam Permintaan yang Suci)

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q)

(dari buku Secrets of the Heart)

Kita memohon dukungan dari guru kita Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (q) dan kita memohon pula dukungan dari Allah (swt) dan Rasulullah (s).   Malam ini adalah malam yang sangat berharga.  Laylat al-Ragha’ib, “Malam Permintaan yang Suci,” yang merupakan salah satu malam yang paling penting dalam sejarah Islam dan bagi seluruh umat manusia.  Ini adalah malam di mana Cahaya Rasulullah (s) ditransfer dari ayahnya menuju rahim ibunya dan jatuh pada hari Jumat pertama di bulan Rajab.  Semua yang kalian minta di malam ini akan dikabulkan oleh Allah (swt) demi kemuliaan Nabi Muhammad (s).  Bangsa Arab dan negeri-negeri Islam lainnya merayakan malam ini dengan memanjatkan segala pujian kepada Rasulullah (s), mengingat kembali riwayat hidup beliau dan melakukan zikrullah dengan mengunjungi masjid dan tinggal di sana sampai terbit fajar.  Mereka tidak tidur.  Sayangnya, di negara ini, tidak ada yang tahu—khususnya umat Muslim—bahwa malam yang paling berharga ini telah tiba.

Bagaimana Allah (swt) akan mendukung kalian di negara ini, bagaimana Islam akan tersebar di negara ini, jika bahkan umat Muslimnya saja tidak mengetahui kapan jatuhnya malam yang sangat berharga ini?  Ini adalah malam di mana kalian harus mengisinya dengan membaca al-Qur’an, mengucapkan Asmaullah, membaca riwayat hidup Nabi Muhammad (s), berselawat kepadanya, dan  bermunajat kepada Allah.  Tiada yang mengetahuinya.  Lihatlah semua masjid, bahkan tidak ada yang berbicara mengenai malam ini.  Bahkan tidak ada pula yang mengatakan bahwa ini adalah bulan Rajab dan kalian harus berpuasa pada hari Senin dan Kamis.  Siapa yang berpuasa?  Sangat sedikit orang yang berpuasa dan mengingatnya.  Di antara mayoritas Muslim, tidak ada yang berpikir, tetapi tetap saja mereka ingin menyebarkan Islam di mana-mana.  Bagaimana ini akan terjadi bila kita, umat Muslim tidak memulainya dengan diri kita sendiri sebelum berpaling kepada orang lain.

Kita memohon kepada Allah (swt) agar mengubah kalbu setiap Muslim yang mengabaikan puasa di bulan Rajab dan membuat mereka menghargai bulan ini sebagaimana layaknya.  Di negara kami, dengan seizin Syekh, kami tidak tidur di bulan ini.  Tadi malam Mawlana Syekh Nazim (q) merayakan malam ini di Nikosia bersama 500 orang, dengan melakukan salat, zikir, memberi shuhba, lalu menyuruh orang-orang agar pulang ke rumahnya masing-masing untuk melakukan segala macam salat dan berdoa hingga fajar.  Di sini, bahkan tidak ada orang yang berpikir bahwa malam ini berbeda dengan malam-malam lainnya.

Sesungguhnya jika bukan karena malam ini, Islam tidak akan pernah ada.  Cahaya yang telah diciptakan oleh Allah (swt)  dalam diri Sayyidina Adam (a) terletak di keningnya, dan Adam (a) bertanya kepada Tuhannya, ketika Dia menciptakannya dan menempatkan ruh ke dalam tubuhnya, “Wahai Tuhanku, lampu apakah ini, cahayanya selalu bersinar di keningku?”  Dia berkata, “Wahai Adam (a), cahaya itu adalah cahaya nabi dan rasul-Ku yang tercinta, cahaya hamba-Ku Muhammad (s).  Dari cahaya itu Aku menciptakanmu.  Aku telah menciptakan dia lebih dahulu sebelum Aku menciptakanmu, dan Aku letakkan cahaya itu di kepalamu.  Cahaya itu diteruskan kepada Nuh (a), dari Nuh (a) kepada Ibrahim (a), dan dari Ibrahim (a) kepada Isma’il (a), dan seterusnya sampai pada Rasulullah (s).

Jika bukan untuk Rasulullah (s), Allah (swt) tidak akan menciptakan seluruh alam semesta ini.  Ketika Dia memerintahkan kalam untuk menulis, LA ILAHA ILLALLAH, tidak ada Tuhan selain Allah (swt), kalam itu menulis selama 70.000 tahun dalam ukuran waktu Allah.  “Wa ‘inna yawman ‘inda rabbika ka’alfi sanatin mimma ta’uddun,” “Sehari di sisi Tuhanmu adalah 1.000 tahun menurut perhitunganmu” [al-Hajj: 47].  Bayangkan rentang waktu selama 70.000 tahun surgawi, akan setara dengan 25.550.000.000 tahun menurut perhitungan manusia, jadi selama itu kalam menulis.

Ketika kalam selesai menulis, dia berhenti.  Allah (swt) berkata kepada kalam, “Wahai kalam, tulislah Muhammadun Rasulullah.”  Kemudian kalam itu menulis lagi selama 70.000 tahun.  Lalu kalam itu bertanya, “Wahai Tuhanku, siapakah orang yang mulia ini, Muhammad (s) yang Kau sandingkan Nama-Mu bersama namanya?”  Dan Allah (swt) berfirman, “Ikhsa’ ya qalam, lawla Muhammadun ma khalaqtu ahadan min khalqi,” “Diam, wahai kalam!  Jika bukan untuk Muhammad (s), Aku tidak akan menciptakan satu ciptaan pun.”

Tidak ada yang mengetahui kapan kalam itu mulai menulis kalimat LA ILAHA ILLALLAH, dan tidak ada yang mengetahui kapan kalam itu mulai menulis MUHAMMADUN RASULULLAH.  Masa itu disebut “azal” dalam bahasa Arab, berarti pra-keabadian, suatu masa yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Allah (swt).  Nama Rasulullah (s) sudah ada pada saat itu.  Dan jika nama itu berada di sana, apakah kalian pikir dia tidak ada di sana?  Bila kalian memberi nama kepada seseorang, maka orang itu harus ada, paling tidak secara spiritual.  Oleh sebab itu, apa pun sanjungan yang kalian berikan kepada Rasulullah (s), apa pun pujian yang kalian berikan, kalian masih tetap menganggapnya sepele.  Salah satu wali besar berkata, “Berikan kemuliaan kepada Rasulullah (s) dan pujilah dia, tetapi jangan katakan kepadanya sebagaimana orang Kristen berkata tentang rasul mereka.”  Hal ini berarti jangan katakan bahwa beliau adalah Tuhan.  Hanya Allah (swt) Tuhan kita, yang lain adalah ‘abd, hamba.

Ini adalah keyakinan para Sufi.  Pengikut Sufi percaya bahwa Allah (swt) Maha Esa, dan segala sesuatu adalah hamba-Nya.  Jangan berpikir bahwa para Sufi sejati mempunyai iman yang berbeda.  Sufi sejati mengetahui bahwa hamba adalah hamba dan Allah (swt) adalah Tuhan.  Orang-orang yang mengklaim pembaharu (dalam agama) memproklamasikan dirinya sebagai sufi, namun mereka meninggalkan kamar kecil tanpa mengetahui bagaimana cara membersihkan diri mereka!   Ini tidak bisa dianggap sebagai Sufi sejati, mereka tidak bisa dianggap apapun!  Para pengikut Sufi harus menjaga Syariat Rasulullah (s), mereka harus tetap menjaga seluruh kondisi dan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah (swt) kepada kita, mereka percaya bahwa Allah (swt) Maha Penyayang kepada setiap orang.  Ini adalah Rahmat dari Allah (swt).  Tetapi walaupun Allah Maha Penyayang, kita harus menunjukkan rasa terima kasih kita, dengan menyembah-Nya dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya kepada kita.  Itulah alasan mengapa Allah (swt) menuntut penyembahan kita.  Atau apakah kalian pikir bahwa alasan kita menyembah-Nya adalah untuk menambah Kebesaran-Nya?  Ibadah kita murni merupakan ukuran rasa terima kasih karena Allah (swt) telah menciptakan kita dan memberi kita kemuliaan semacam itu.

Jangan berpikir bahwa para Sufi dapat menerima pandangan yang mengatakan bahwa Sufisme bertentangan dengan Syariat?  Ini tidak pernah menjadi masalah, dan tidak akan menjadi masalah.  Dari masa Rasulullah (s), Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r), Sayyidina ‘Ali (r) dan seluruh guru Sufi, semuanya menghormati dan menjaga Syariat sepenuhnya.  Yang kami maksud adalah guru Sufi sejati, bukan anak-anak yang memproklamirkan dirinya sebagai guru Sufi dan membawa seluruh khuza’balat, ide-ide bodoh dan omong kosong diberikan kepada Sufisme.  Apakah Sufisme seperti ini?  Sufisme berarti bahwa kalian tidak mengangkat kepalamu dari posisi sujud.  Kalian lihat, mereka tidak memelihara janggut, tidak memakai turban, tidak memperhatikan sunnah Rasulullah (s), dan tetap mengaku sebagai guru Sufi dan berbicara mengenai Jalaluddin ar-Rumi (q) atau Muhyiddin ibnu al-‘Arabi (q), atau Abu Yazid al-Bistami (q).  Abu Yazid al-Bistami (q), Muhyiddin ibnu al-‘Arabi (q) dan Jalaluddin ar-Rumi (q) akan menyangkal mereka!  Para awliya ini tidak menerima mereka karena mereka akan bertentangan dengan Syariat.

Guru Sufi yang palsu bahkan mengaku bahwa kita tidak perlu berwudu.  Bagaimana mungkin wudu tidak diperlukan?  Salah satu Nama Rasulullah (s) adalah nabi dari “orang-orang yang bercahaya”, al-Ghurr al-Mujjalin.  “Orang pertama yang akan kupanggil menghadapku untuk masuk ke dalam surga dan bertemu dengan Allah (swt) di surga dan tetap bersamaku adalah mereka yang anggota tubuhnya bercahaya seperti cahaya matahari karena dibasuh dengan wudu.” (Bukhari-Muslim).  Setiap orang di antara kalian yang selalu menjaga wudunya akan termasuk orang-orang yang beruntung itu.  Ketika Abu Hurayra (r) ditanya mengapa beliau membasuh anggota tubuhnya dengan air melebihi yang diperlukan, beliau menjawab bahwa beliau ingin seluruh anggota tubuhnya bercahaya pada hari itu.  Lalu bagaimana mungkin—orang yang mengaku Sufi—berkata bahwa wudu tidak diperlukan?  Mereka mengaku bahwa mereka melakukan wudu dengan cara menghirup, lalu mengeluarkan semua kotoran mereka.  Ini lebih baik dilakukan di kamar mandi, bukan di masjid.  Kalian hanya bisa masuk ke masjid setelah melakukan wudu!  Tidak ada satu pun yang dapat membersihkan kalian kecuali dengan wudu.  Kami membantah apa yang mereka katakan.  Mereka yang mengaku Sufi itu bukan Sufi sejati tetapi sesungguhnya menentang Sufisme, dan merekalah yang memberi citra buruk kepada Sufisme.

Rasulullah (s) bertanya kepada Sayyidina Bilal (r), “Wahai Bilal, Aku mendengar langkahmu di surga.  Apa yang kamu lakukan (untuk mendapat penghargaan semacam ini)?”  Bilal (r) menjawab, “Wahai Rasulku tercinta, setiap kali aku berwudu baik di siang hari maupun ketika aku bangun di tengah malam untuk berwudu (setelah pergi ke kamar kecil), aku melakukan salat wudu minimal dua rakaat “ (Bukhari-Muslim).  Kita tidak meringankan tubuh kita seperti halnya binatang, tanpa membersihkan diri, kemudian kita melangkah ke dalam masjid dan berkata bahwa kita akan melakukan salat.  Kita tidak mengatakan hal ini kepada muslim yang baru, tetapi kepada muslim yang telah lama.  Kita mendiskusikan hal ini dengan terbuka karena, “la haya’a fid din,” “tidak perlu malu dalam urusan agama” (hadis).

Rasulullah (s) bersabda, “Aku takut umatku nanti akan melakukan salat tanpa membersihkan diri setelah mereka membuang urin.” (hadis, Rasulullah  (s) suatu ketika melewati dua kuburan, kedua orang yang dimakamkan di sana telah disiksa.  Beliau bersabda…’Salah satu di antara mereka tidak pernah melakukan tindakan untuk mencegah dirinya dikubur dengan urinnya sendiri’ dan seterusnya.” Bukhari, Jana’iz bab 80).  Banyak orang di sini yang pergi ke kamar kecil dan keluar tanpa membersihkan diri mereka, kemudian melakukan wudu dan salat, hal ini tidak dapat diterima.  Dalam kasus ini salatnya tidak diterima.  Kalian harus menyiram dan membersihkan diri kalian ketika membuang urin.  Jika tidak, kalian tidak bisa melakukan salat.  Saya ulangi bahwa ini adalah untuk orang yang sudah lama menjadi muslim, bukan untuk yang baru menjadi muslim.  Kalian harus membersihkan diri sebelum kalian melakukan salat.  Bagaimana kalian akan berdiri (dalam salat) menghadap Allah (swt) dan berharap agar salat kalian diterima?  Salat kalian tidak akan diterima, meskipun itu lebih baik daripada tidak—dibandingkan dengan orang yang tidak salat sama sekali.

Setiap orang harus membersihkan dirinya baik secara fisik maupun spiritual.  Tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Aku telah membersihkan diriku secara spiritual.”  Untuk para pemula, lupakan, tetapi bagi kita, kita harus datang untuk salat dalam keadaan bersih, baik di masjid maupun di rumah.  Kalian harus sangat berhati-hati dalam masalah ini.  Jangan membuang urin sembarangan sebagaimana yang dilakukan oleh anjing, keledai, atau monyet, tanpa merasa malu karena Syekh tidak melihat kalian.  Jika Syekh tidak melihat kalian, kedua malaikat di pundak kalian bisa melihat kalian.  Jika mereka pun tidak melihat kalian, Allah (swt) melihat kalian.  Tidakkah kalian merasa malu terhadap hal ini?  Pergilah ke kamar kecil di bandara atau di pom bensin di Amerika, di sana, tidak ada orang yang merasa malu berpakaian tidak selayaknya, berdiri dan membuang air seperti anjing… apakah ini yang dinamakan hormat dan adab?  Kalian harus berada dalam ruangan tersendiri agar tidak ada orang yang bisa melihat kalian.  Itulah adab yang diajarkan oleh Islam.  Islam mengajarkan kalian untuk selalu menghormati orang, termasuk diri kalian sendiri.

Sayyidina ‘Ali (r), semoga Allah (swt) mengangkat derajatnya, selama hidupnya tidak pernah melihat bagian-bagian tubuhnya yang sifatnya pribadi.  Itulah sebabnya beliau menerima kehormatan yang begitu tinggi, penghargaan yang kita ucapkan setelah menyebutkan namanya, “karramallahu wajhahu”, yang secara harfiah berarti, “Semoga Allah (swt) memuliakan wajahnya.”  Beliau tidak pernah membiarkan matanya melihat bagian tubuh pribadinya.  Bagaimana dengan kita dewasa ini?  Kita meninggalkan bagian tubuh pribadi kita, lalu mencari milik orang lain dan bahkan menggambarkannya!  Di televisi, mereka mengajarkan setiap orang termasuk anak-anak bagaimana cara berkencan dan bagaimana cara melihat bagian tubuh pribadi masing-masing.  Peradaban macam apa ini?  Ini adalah suatu kebodohan.  Kehidupan binatang lebih baik daripada seperti ini.

Kita terlalu banyak melakukan dosa.  Kita memerlukan jalan yang aman dan cepat untuk mencapai Tuhan kita.  Kita harus mengetahui bahwa Malam Permintaan yang Sakral ini adalah salah satu jalan untuk mendekati-Nya.  Ke mana pun kita memandang, kita temukan diri kita dalam keadaan berdosa, itulah sebabnya kalian harus mencari tempat di mana orang-orang membuat suatu pertemuan demi Allah (swt), mereka mengingat Allah (swt) dan mengingat Rasulullah (s), sehingga kalian dapat mendekati-Nya dengan cepat.  Oleh sebab itu jangan melewatkan pertemuan semacam itu.

About Nazimiyya Indonesia

Naqshbandi Nazimiyya Indonesia adalah sebuah organisasi non profit yang mewadahi kegiatan jemaah Tarekat Naqsybandi Nazimiyya di Indonesia, di bawah bimbingan Mursyid Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (q) dan khalifahnya, Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q).

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: