Mencium Tangan Ulama

“Adapun untuk pertanyaan mengenai mencium tangan ulama, itu diperbolehkan untuk melakukannya terhadap ulama yang cermat, seorang penguasa yang adil, orang tua seseorang, guru seseorang, dan orang-orang yang pantas untuk dihormati dan dimuliakan.” ~Syekh Ali Gomaa, Mufti Besar Mesir.

 

http://www.ali-gomaa.com/?page=fatwas&fatwa_details=64

 

Al-Nafrawi berkata, ‘Sebuah contoh untuk ini adalah seorang Badui yang bertanya kepada Nabi (s), “Tunjukkan aku suatu tanda,’ lalu Nabi (s) bersabda, ‘Pergilah ke pohon itu dan katakanlah kepadanya, ‘Nabi memanggilmu.’  Pohon itu bergerak ke kanan dan ke kiri untuk mendatangi Nabi (s) dan berkata, ‘Semoga kedamaian tercurah padamu wahai Rasulullah (s).’  Lalu Nabi (s) berkata kepada orang Badui itu, ‘Katakan agar ia kembalil,’ dan pohon itu pun kembali ke tempatnya semula.  Orang Badui itu mencium tangan dan kaki Nabi (s) dan menjadi seorang Muslim.  Dan ada beberapa riwayat yang serupa.

 

Ibn Qasim al-‘Ibadi berkata, “Adalah sunnah untuk mencium tangan seorang ulama, orang yang saleh, ahlul bait Nabi (s), dan seorang zuhud sebagaimana yang dilakukan oleh para Sahabat kepada Nabi (s).

 

Pada poin ini penting untuk mengingat Hadits Nabi (s) berikut, “Al-fitnatu naimatun, la’na Allahu man ayqazhaha, — “Fitnah, pertikaian, dan masalah adalah dalam keadaan tertidur.  Allah mengutuk orang yang membangunkannya.”

 

Kita harus selalu mengingatkan diri kita sendiri mengenai ayat berikut dari kitab suci al-Qur’an di mana Allah (Subhaanahu Wata’ala) berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman!  Jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimbulkan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Surat Al-Hujurat, 49:6)”

 

Nabi Prophet (s) bersabda,
حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا

 

Haasibuu anfusikum qabla an tuhaasabuu.
Hisablah dirimu sendiri sebelum kamu akan dihisab.

 

Allah (Subhaanahu Wata’ala) berfirman:

“Ingatlah!  Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap emreka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Wali-wali Allah adalah termasuk yang terbaik di antara makhluk-Nya.) (Surah Yunus, 10:62).

 

Di dalam Hadits Qudsi, sekali lagi Allah (Subhaanahu Wata’ala) berfirman, “Aku (Allah) menyatakan perang terhadap orang-orang yang memerangi para Awliya-Ku.” (Hadits Qudsi Bukhari).

 

About Nazimiyya Indonesia

Naqshbandi Nazimiyya Indonesia adalah sebuah organisasi non profit yang mewadahi kegiatan jemaah Tarekat Naqsybandi Nazimiyya di Indonesia, di bawah bimbingan Mursyid Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (q) dan khalifahnya, Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q).

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: