Syuyukh Memberikan Ujian

Pertanyaan:
Bismillahir Rahmaanir Rahiim
As-Salaamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakaatuh,
Ketika syuyukh mengatakan suatu hal kepada orang-orang, bagaimana kita mengetahui bahwa beliau sedang menguji mereka dan kita atau apakah mereka sungguh-sungguh mengatakan demikian, misalnya jika syuyukh mengatakan bahwa orang ini seorang yang korup (fasad) dan mempunyai hati yang kotor, apakah kita menerimanya sebagaimana adanya, atau melihatnya sebagai ujian bagi orang itu dan diri kita dan tidak mempunyai opini yang buruk atau membenci orang itu?
Saya menanyakan hal ini dalam konteks sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Hisyam bahwa Grandsyekh memarahi Mawlana Syekh Nazim di depan orang banyak dan murid-murid lain mulai berpikiran buruk terhadap Mawlana Syekh Nazim dan menerima ucapan Grandsyekh apa adanya.
Bagaimana kita dapat menghindari menjadi murid seperti itu, tetapi juga memastikan bahwa kita tidak mengabaikan Syekh dengan menafsirkan situasi itu dengan tidak benar?
Semoga Allah memberi ganjaran padamu,
Jazakallah
Jawaban:
Alaykum Salam,
Seorang murid harus menyadari kapan seseorang berusaha untuk membahayakan Syekh, selanjutnya tidak berasosiasi dengan orang semacam itu.  Seorang murid yang baik juga perlu mendeteksi apa yang dianggap fitnah oleh Syekh dan sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan, dan tidak berkontribusi untuk mengobarkan api semacam itu menentang Syekh.
Jika ragu-ragu, tidak usah ikut untuk memberi penilaian, tetapi lebih banyak merefleksikan diri.  Namun demikian, murid harus berada di dalam halaman yang sama dengan Syekh karena apa yang haqq adalah haqq dan apa yang batil adalah batil.  Contoh kebatilan yang tersebar luas adalah orang-orang yang salah dalam merepresentasikan Syekh di seluruh dunia, sebagaimana yang baru-baru ini disebutkan di dalam suhba Mawlana Syekh Hisyam.
Namun, ketika Syekh memberikan teguran yang melibatkan seorang khalifah senior, sebagaimana dalam kejadian yang Anda sebutkan dalam pertanyaan Anda, persoalannya menjadi berbeda, dan bagi mereka yang menyaksikannya tidak boleh turut campur, baik secara lahir maupun batin (di dalam hatinya).  Kita simpan penafsiran yang tidak relevan untuk diri kita sendiri, dan fokus pada masalah ego kita sendiri.  Sebagaimana yang Mawlana katakan ketika singa-singa mengaum, anjing-anjing diam.
Kalbu kita selalu berada dalam pengawasan dalam kondisi apapun, baik dalam skenario pertama maupun yang berikutnya, dan Allah Maha Mengetahui.
Hajj Gibril Haddad
Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q)
Zawiyah Fenton, MI
8 Desember 2012

(catatan buram dari transkrip suhba)

Allahumma shalli `ala Sayyidina Muhammad (s) wa `alaa aali Sayyidina Muhammad (s)
Allah Allah Allah Allah Allah Allah Subhanallah
Allah Allah Allah Allah Allah Allah Sulthan Allah
Allah Allah Allah Allah Allah Allah Allah Kariim Allah
Ya Rabb ya Allah anta al-Kariim wa nahnu `ibaadik al-`ajiziin.
a’udzu billah mina ‘sy-syaythani ‘r-rajiim
Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim
Nawaytu ‘l-arba’iin, nawaytu’l-‘itikaaf, nawaytu’l-khalwah, nawaytu’l-riyaadha, nawaytu’s-saluuk, nawaytu’l-‘uzlah, nawytu as-siyam lillahi ta’ala fii hadza’l-masjid
athi’uullah wa athi’uur-rasula wa uli’l-amri minkum
 
Alhamdulillah bahwa kita dapat bertemu kembali setelah sebulan atau lebih. 
Di Tangan Allah-lah apa yang harus dilakukan oleh hamba-hamba-Nya.  Allah member ilham pada mereka mengenai apa yang baik dan apa yang buruk, dan kita bergerak berdasarkan pergulatan kita antara yang baik dan yang buruk.  Bisa saja kita begerak di sisi yang salah, bisa juga kita bergerak di sisi yang benar, Allah Maha Mengetahui, dan kita selalu memohon ampunan-Nya.
 
Grandsyekh, semoga Allah memberkati ruhnya, berkata bahwa setiap manusia mempunyai 24.000 napas (dalam satu hari) dari siang hingga malam.  Sekarang, mungkin dokter mengatakannya berbeda, lebih sedikit; tetapi secara spiritual ketika beliau mengatakan 24.000 napas, apa artinya?  Orang bisa berpikir bahwa yang dimaksud napas adalah menghirup dan menghembuskan (udara), itu adalah salah satu maknanya.  Tetapi pada hakikatnya, di dalam ranah makrifat atau di dalam ranah akidah Islamiah, setiap tarikan napas dan hembusan napas merupakan suatu mi’raj. 
 
Pada saat menarik napas, bila kalian berada di jalan yang benar, kalian menarik napas dengan memperhatikan napas kalian, bahwa ia datang bersama istighfar dan keluar bersama istighfar, tarikan dan hembusan napas itu mempunyai sebuah mi’raj.  Dan ma`arij, bentuk jamak dari mi`raj, tidak ada seorang pun yang dapat membatasinya.  Apakah menurut kalian bahwa Nabi (s) ketika Allah (swt) mengundangnya untuk mi’raj, apakah undangan itu telah berhenti?  Jika kalian berada di suatu kelas, di SMA, lalu setelah tamat SMA, kalian melanjutkan kuliah di akademi dan lulus dari sana, kalian melanjutkan ke universitas, dan selesai di sana, kalian meneruskannya hingga menjadi seorang profesor.  Jadi, itu tidak pernah berhenti.  Dari satu pembukaan menuju pembukaan lainnya.  Kalian selesai pada satu pembukaan, ia membuka banyak lagi.  Jadi mi’rajnya Nabi (s), jika kita membatasinya, maka itu adalah taqsiir fii haqqi’n-Nabi (s), berarti itu menghilangkan atau merendahkan derajat Nabi (s).
 
Itu artinya, Aku memperlihatkan kepadamu dan Aku menghentikanmu.  Tidak, Kemurahan Allah tidak seperti itu, bila Dia member sesuatu, Dia akan terus memberikannya lebih dan lebih banyak lagi.  Ketika Dia mengangkat Nabi (s), itu adalah sebuah mi’raj; tetapi pada saat beliau mi’raj, Grandsyekh mengatakan bahwa Nabi (s) bermi’raj mitslayni mitsylayn dalam setiap saat.  Itu artinya setiap tarikan napas adalah mi’raj dan setiap hembusan napas adalah mi’raj dan setiap mi’raj mempunyai level dua kali lebih tinggi dari level sebelumnya.
 
Jadi para awliyaullah yang Allah berikan ke dalam kalbunya sebagai pewaris Nabi (s), ketika mereka memasuki suluk untuk mencapai makrifatullah, mereka bergerak dari satu level ke level berikutnya dan apa yang diberikan di dalam mi’raj itu tidak dapat diketahui.  Setiap orang mempunyai mi’raj yang berbeda dan setiap orang mempunyai seseorang di mana ia belajar darinya.  Jadi setiap mi’rajnya Nabi (s) itu adalah qaaba qawsayni aw adnaa.  Di dalam mi’raj itu, beliau (s) mencapai qaaba qawsayni aw adnaa di dalam mi’raj itu dan beliau masuk ke dalam mi’raj berikutnya, beliau mencapai qaaba qawsayni aw adnaa dalam mi’raj itu dan itu lebih dekat, kita tidak dapat menggunakan kata jarak, karena ketika jaraknya menjadi semakin kecil, dalam perasaan seseorang itu semakin jauh dan semakin jauh, karena Nabi (s), ketika beliau mendekat, beliau masih melihat, seperti ketika kalian pergi ke cakrawala, kalian akan melihat cakrawala lainnya.
 
Karena Nabi (s) adalah `abd dan Allah (swt) adalah Khaliq. Jadi setiap mi’raj, ada qaaba qawsayni aw adnaa di dalamnya.  Dan Allah memberi tajali apa saja yang Dia inginkan bagi Nabi (s) dan itu adalah qaaba qawsayni aw adnaa bagi Nabi (s) di dalam level itu, dan di dalam mi’raj lainnya, ada qaaba qawsayni aw adnaa lainnya sehingga qaaba qawsayni aw adnaa tidak pernah berakhir.  Dan sebagaimana Nabi (s) mengalami mi’raj, setiap hari Nabi (s) berada dalam mi’raj dan mi’raj ditambah mi’raj menjadi ma`arij.  Para awliyaullah mewarisi tetesan dari ilmu itu, dan semua awliyaullah membagi tetesan-tetesan dari ma`arijnya Nabi (s).
 
Jadi awliyaullah hidup 100 tahun, sebagian hidup 70 tahun, sebagian 50, sebagian 20 tahun menjadi awliya, sebagian sejak lahir sudah menjadi awliya dan apa yang mereka capai dari Nabi (s), mereka tetap masih menerima setetes dari Nabi (s).  Dan bahkan jika mereka menghabiskan sepanjang umurnya untuk mengajarkan yang setetes tadi, apa yang mereka bagi adalah dari ma`arij.  Di dalam setetes mi’rajnya Nabi (s), ada banyak mi`raj, ma`arij, dari mi’raj itu dan mereka mengambil dari mi’raj itu.  Itulah sebabnya kalian tidak bisa menceraiberaikannya ke dalam berbagai kelompok dan mengatakan bahwa wali ini bertentangan dengan wali itu. 
 
Kalian tidak bisa membuat fitnah dan mengatakan bahwa para awliyaullah bertengkar satu sama lain.  Orang-orang yang membuat fitnah di antara awliyaullah, mereka akan merasa malu di Yawmil Hisab.  Orang yang menentang seorang wali, Allah menyatakan perang terhadapnya. Jadi awliyaullah, mereka tidak peduli, inna Allah yudafi`uu `anilladziinam aamanuu.  Allah akan membela awliyaullah.  Dia membela mereka dan Dia Maha Mengetahui siapa yang membuat fitnah.  Sudah menunggu sebuah tamparan bagi mereka di Yawmil Hisab.  Pada hari itu amal mereka akan lenyap, habaa’an mantsuura, seolah-olah tidak pernah ada.
 
Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani, semoga Allah memanjangkan umurnya dan Grandsyekh, semoga Allah memberkati ruhnya, tidak pernah menerima orang yang datang dan mengeluh mengenai orang lain.  Itu dianggap ghiba dan namiimah.  Ghiba adalah berbicara mengenai keburukan seseorang tanpa kehadiran orang tersebut dan namiima adalah menciptakan fitnah.  Jika kalian ingin masuk ke dalam pintu kami, masuklah, lakukan salat dan zikir kalian dan jangan mengeluh.  Mereka mengajarkan kepada kita bahwa ada 124.000 wali dan setiap wali menerima dari satu di antara 124.000 Nabi dan ada 124.000 Sahabat yang mewarisi dari Nabi (s) dan para awliyaullah mewarisi dari Sahabat Nabi (s).  Jadi, tidak hanya ada satu wali, tetapi ada 124.000 wali.  Kalian mencintai wali kalian, alhamdulillah.  Kita mencintai Syekh kita, tetapi bukan tugas kita untuk menghina Syekh-Syekh lainnya.  Masing-masing mempunyai orang yang menyukainya.  Misalnya, saya ingin bersamamu, ia ingin bersama orang ini, itu bebas saja.  Kalian bisa bersama orang yang kalian sukai.  Kalian bisa berkata, “Aku senang dengan apa yang dikatakannya.  Itu cocok buatku.”  Sementara yang lain mengatakan, “Alhamdulillah, (wali) yang itu cocok buatku.  Jadi aku mengikuti wali itu.”  Jadi apa yang terjadi?  Kita harus saling menghormati. 
 
Sebagaimana kullu min rasuulullah multamisan, setiap orang mengambil (bagian) dari Nabi (s).  Wa kullun, setiap makhluk yang Allah ciptakan mengambil (bagian) dari Nabi (s).  Imam Busayri menyadari hakikat itu, yaitu bahwa ins dan jin dan malaikat, jika Nabi (s) tidak ada, maka mereka tidak akan diciptakan.  Nabi (s) adalah `Abdullah, tetapi Allah menciptakannya dan untuknya Allah menciptakan seluruh makhluk.  Jika untuknya Allah menciptakan makhluk, itu artinya setiap orang mengambil (bagian) dari Nabi (s).  Jadi bagaimana mungkin kalian dapat menyerang orang itu?  Itu adalah untuk orang awam, lalu bagaimana menurut kalian mengenai seorang wali, siapapun ia, wali itu mempunyai level itu, level itu dan level itu.  Allah memberi setiap orang apa yang ia miliki dan setiap orang mempunyai sesuatu yang bermanfaat bagi umat.  Jangan memecah belah umat sebagaimana yang terjadi di negara-negara Arab di Timur Tengah.  Seperti halnya di Iran, kalian mempunyai ulama yang mengikuti Syari`ah menurut Mazhab Ja’fari, tetapi ada juga kelompok lain yang mengikuti Wilayat al-Faqih, mereka menganggap Syekh mereka suci, bersifat Ilahiah, itu artinya kata-katanya harus dipenuhi tanpa pertanyaan.  Apapun yang ia katakan berarti muzhir, berasal dari langit.  Jika ia mengatakan, “Bunuh orang ini!” Orang harus membunuhnya tanpa pertanyaan. 
 
Dan kini di Mesir, orang mempunyai yang serupa dengan Wilayat al-Faqih, untuk Ikhwan al-Muslimiin, mereka mempunyai al-Mursyid al-`Aam, dan orang harus mematuhi apa yang ia katakan dan tidak memperhatikan ulama-ulama lainnya.  Mereka mengatakan ini adalah mursyid dan kata-katanya bersifat ilahiah dan mereka mengutuk yang lainnya, padahal ada awliyaullah di Mesir, karena seluruhnya ada 124.000 awliya.
 
Jadi mengapa menyerang yang laiinya?  Jadi di dalam spiritualitas, kalian juga mempunyai hal yang sama.  Kalian mempunyai wali kalian.  Baiklah kalian mengikuti wali itu, tetapi tidak perlu bagi kalian untuk mengganggu yang lain.  Biarkan mereka.  Tetapi Setan tidak ingin membiarkannya begitu saja. 
 
Saya akan menyatakannya di depan umum bahwa kami adalah orang-orang moderat, orang-orang yang mencintai kedamaian, mengikuti syari’ah di jalan yang moderat, jalanwasatiyya, jalan pertengahan, bukannya di pinggir jalan ini atau jalan itu, bukannya yang liberal, bukan pula yang ekstrim.  Kami berada di jalan pertengahan.  Kami menghormati setiap manusia di bumi dan kami mengutinya.
 
Sayangnya sekarang ini setiap orang… dan Allah berfirman di dalam kitab suci al-Qur’an, wa la tuzakuu anfusakum, jangan memuji diri sendiri dan memberikan alasan bagi diri sendiri.  Sekarang, banyak sekali orang yang memuji dirinya.  Di dalam jalan Sufi dan di dalam Islam, kalian harus mengkritik diri kalian, bukannya memuji diri sendiri.  Itu adalah kritik batiniah terhadap diri sendiri.
 
Dan banyak orang di seluruh dunia berkata bahwa, “Mawlana Syekh mengatakan ‘Lakukan ini’,” tetapi itu adalah bohong.  Mawlana Syekh tidak pernah membolehkan sesuatu yang bertentangan dengan Syaria`tullah.  Ambillah apa yang kalian dapat melakukannya tetapi jangan mencampurkannya dengan imajinasi kalian.  Apa yang terjadi di Singapura tidak bisa kita terima dan apa yang terjadi di negeri lain, kita tidak terima.  Kita harus sangat berhati-hati.  Kita harus mengikuti Syari`ah.  Mawlana Syekh memisahkan orang-orang menurut (aturan) Islam.  Ketika mereka salat, pria dan wanita salat terpisah, tidak bisa bercampur.  Jadi kita tidak bisa mencapuradukan dalam agama, apakah kalian seorang Muslim atau campuran sup, mencampur aduk dengan jalan yang salah.  Nabi (s) tidak memperbolehkannya.  Dan kita mempunyai hak untuk bertanya, mengapa kegiatan yang terjadi di Timur Jauh ini diperbolehkan oleh orang-orang yang bertanggung jawab atas tempat-tempat ini?  Dan orang yang melakukanwhirling itu mengaku bahwa Mawlana telah member izin, itu adalah bohong!
 
Orang-orang menggunakan Mawlana Syekh sebagai alasan untuk berbagai hal.  Tidak ada orang yang dapat menjumpai Mawlana Syekh.  Saya adalah menantunya dan saya tahu bahwa tidak ada orang yang bisa naik (ke ruang Mawlan) dan menjumpainya.   Dan kita harus menghormati orang-orang yang telah Mawlana tunjuk (untuk daerah itu) dan mereka adalah orang-orang di jalan yang benar, bukannya datang dengan sup dan mencapuradukkan segala hal, dan menjadikannya sebagai sup. 
 
Al-haraam bayyin wal-halaalu bayyin, yang haram adalah jelas dan Nabi (s) telah menjelaskannya dan yang halal juga jelas.  Dan kita bisa mengatakan bahwa kita berada dalam perjuangan.  Ada kelompok yang berjuang, mereka berusaha untuk melakukan apa yang halal, tetapi kemudian Setan menarik mereka untuk melakukan apa yang haram. Itu adalah perjuangan antara yang haqq dan yang batil, dan itu sudah terjadi sejak zaman Sayyidina Adam (as), ketika anaknya, Haabil dan Qaabil berselisih satu sama lain dan akhirnya Qaabil membunuh Haabil.  Juga anak-anak Nabi Ya’qub (as), mereka bersaudara tetapi mereka melemparkan saudaranya, Yusuf (as) ke dalam sumur, walaupun mereka semua adalah nabi.  Jadi jangan membuat kelompok-kelompok lain di dalam tarekat.  Jangan membuat ahzaab.  Dan hentikan kebiasaan yang mengatakan bahwa “Mawlana mengatakan ini.”  Mawlana tidak mengatakan apa-apa.  Mawlana berada dalam kepasarahan sepenuhnya, dan dalam muraqabah. Mawlana hanya mengatakan, “salam ‘alaykum” dan beberapa kata.  Tetapi kebanyakan beliau menasih, dan setiap tetes air matanya adalah atas nama umat.  Jadi jangan menyebarkan rumor yang mengatakan “Mawlana mengatakan untuk melakukan ini,” dan itu adalah bohong. 
 
Saya bersama Mawlana Syekh selama 50 tahun dan saya mengenal Mawlana.  Ada orang-orang di Timur Jauh dan di Barat, di mana mereka bekerja keras dan melakukan yang terbaik untuk Mawlana.  Di lain pihak, ada orang yang melakukan kesalahan dan ketika ditanya mereka berkata, “Mawlana mengatakan untuk melakukannya”, jangan melepaskan tanggung jawab pada Mawlana, itu tidak benar.  Itu adalah haram.
 
Semoga allah mengampuni kesalahan kita.  Dan hormat saya pada para perwakilan di mana mereka mengizinkan, orang-orang yang diberi otoritas di beberapa tempat, orang-orang yang mengizinkan untuk mencampur apel dengan jeruk dan membuat sup, membolehkan mereka melakukan hal ini di zawiyah, atau masjid, atau khaniqah atau ribat mereka.  Semoga Allah mengampuni kita dan memanjangkan umur Mawlana Syekh dan memberi kita umur panjang untuk mencapai Mahdi (as).

About Nazimiyya Indonesia

Naqshbandi Nazimiyya Indonesia adalah sebuah organisasi non profit yang mewadahi kegiatan jemaah Tarekat Naqsybandi Nazimiyya di Indonesia, di bawah bimbingan Mursyid Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (q) dan khalifahnya, Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q).

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: