Menelan Saliva (Air Ludah) di Dalam Salat?

Pertanyaan:

Salam,

1. Apa hukum menelan air liur ketika shalat mengikut dalam mazhab syafie’?
2. Jika air liur itu sedikit atau banyak bagaimana?
3. Bagaimana jika air liur itu bercampur dengan benda asing, saperti darah dari gusi atau gigi, atau sisa makanan yang terselit pada gigi?.

Salam, Terima kasih

Jawaban:

wa `alaykum salam,

Salat itu sah jika seseorang menelan saliva/air ludahnya sepanjang ia belum dikeluarkan dari mulut, bahkan jika banyak; jika tercampur dengan darah, itu membatalkan salat karena itu tidak suci, sedangkan untuk sisa makanan yang tertelan secara tidak sengaja, itu OK, jika jumlahnya sedikit.

Kitab The Reliance of the Traveller (Umdat al-Salik) menyatakan:
“Salat menjadi batal ketika ada (walaupun sedikit) suatu zat (selain air ludah) yang masuk ke dalam rongga tubuh secara sengaja. Itu juga membatalkan salat bila terjadi karena kealpaan, atau karena ketidaktahuan akan larangan tersebut, asalkan jumlah zat secara umum termasuk banyak(*) meskipun tidak kalau sedikit.


(*) “Dalam aturan Hukum Suci, penerapan kata kunci deskriptif seperti sedikit, banyak, dekat, jauh, singkat, jauh dan seterusnya, diatur oleh konsep pengakuan umum (`urf). Untuk mengetahui apakan sesuatu itu sedikit atau banyak, yang bisa menjadi ketentuan di dalam aturan tertentu, kita berhenti untuk merenungkan apakah ia secara umum diakui seperti itu, yaitu, apakah kebanyakan orang akan menggambarkan itu seperti itu bila berbicara mengenainya. Pengakuan secara umum juga mempertimbangkan apa yang normal atau diharapkan dalam situasi tertentu. Misalnya, beberapa tetes darah binatang pada baju seorang penjagal bisa dikatakan sedikit, sementara jumlah yang sama pada baju seorang pelajar akan dikatakan banyak.”

Hajj Gibril Haddad

http://eshaykh.com/ibadat-worship/salat-prayer/swallowing-saliva-in-prayer/

About Nazimiyya Indonesia

Naqshbandi Nazimiyya Indonesia adalah sebuah organisasi non profit yang mewadahi kegiatan jemaah Tarekat Naqsybandi Nazimiyya di Indonesia, di bawah bimbingan Mursyid Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (q) dan khalifahnya, Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q).

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: