Khalwat



Pertanyaan:
Assalamualaykum Ya Sayyidi Qutubul Mutassarif,
InsyAllah dengan berkahmu saya berniat untuk melakukan khalwat selama 10 hari untuk mendisiplinkan dan mengontrol ego saya. Saya ingin tahu apakah staf eShaykh dapat memberi penjelasan mengenai aturan makan dan minum selama 10 hari itu, misalnya apakah kita boleh berpuasa selama 10 hari, dan bila ya, apakah makanan yang cocok dan berapa banyak yang kita makan. Juga apakah boleh untuk meninggalkan ruangan guna melakukan Salat Jumat.
Mohon maafkan saya dan terima kasih banyak, semoga Allah memberkatimu semua.
Salaams

Jawaban:
Wa `alaykum salam,
Di dalam Burdah, dikatakan:
Ego bagaikan bayi, jika dibiarkan tetap menyusu, sampai tua pun ia akan tetap menyusu, tetapi bila disapih dari susuan ibunya maka ia akan tersapih dengan sendirinya tanpa harus mengalami hal-hal yang mengkhawatirkan. Janganlah melenyapkan ego dengan memperturutkannya, sebab misalnya nafsu makan, bila dipuaskan dengan makanan, bukan berarti nafsu itu akan lenyap, tetapi ia akan datang lagi dengan keinginan yang lebih besar.

Ada perbedaan besar antara meminta atau ingin melakukan khalwat dengan diperintahkan untuk melakukan khalwat. Sebenarnya, dalam segala hal berlaku seperti itu, ada perbedaan antara meminta melakukan sesuatu dan diperintahkan untuk melakukannya. Ketika kalian meminta sesuatu, bahkan sesuatu yang sulit, itu seolah-olah kalian memintanya untuk kesenangan kalian. Hal ini karena ego terlibat di dalamnya. Jika kalian meminta untuk melakukan khalwat dan mendapat izin untuk melakukannya, akan mudah untuk bisa bertahan karena ego mendapatkan apa yang ia inginkan. Di sisi lain, jika tiba-tiba ego dihadapkan dengan suatu perintah dari syekh untuk memasuki khalwat, akan menjadi sangat sulit bertahan karena ini mengharuskan seseorang untuk menundukkan egonya untuk menuruti kehendak syekh. Ego tidak akan menyerah dengan sukarela. Ia akan menyerang kalian dengan semua bala tentaranya dan metode-metode setani. Ia akan berusaha untuk membuat realitas dari perintah syekh itu menjadi mustahil untuk diterapkan atau diterima.

Ini adalah realitas khalwat yang tidak saya cari. Saya diperintahkan untuk memasuki khalwat ini tanpa pemberitahuan oleh Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani. Nama beliau artinya “orang yang adil dan benar.” Saya berharap bahwa dengan Keadilan dan Kebenaran dari Tuhan, Allah akan memberikan keberhasilan dalam menyelesaikan khalwat ini karena Tuhan mempunyai kendali penuh dan mutlak terhadap kejahatan yang diperintahkan oleh ego dan Tuhan mempunyai kemampuan untuk memurnikannya dari keinginan ego, memutuskannya dari keterikatan terhadap dunia materi, melindunginya dari tipu daya setan dan menyembuhkannya dari semua penyakitnya.

Ego adalah seorang pengecut, karena ia datang untuk mengalahkan kalian dengan berbagai batalion liar yang hina, dengan pikiran duniawinya, dan kejahatan yang berbaris di bawah panjinya. Dengan cara ini, ia dapat mengalahkan kalian—kecuali seorang guru yang sempurna mendidik, mengarahkan dan melatih kalian. Ia akan menjadi seperti singa yang mengaum, melindungi anaknya dari segala hal yang membahayakan. Kita berharap bahwa, dengan berkah guru kita Syekh Muħammad Nazim Adil al-Haqqani, kita akan menikmati kedamaian dan ketenangan dari serangan ego, yang beragenda untuk melawan kita tanpa henti.

[dikutip dari buku, Fifty Days: the Divine Disclosures During a Holy Sufi Seclusion (Lima Puluh Hari: Penyingkapan Ilahiah selama Khalwat) oleh Syekh Muhammad Hisyam Kabbani]

===

…Sup adalah makanan awliyaullah. Di Masjid Sayyidina Muhyiddiin ibn Arabi di Syam, setiap hari ada 100 orang miskin di sana. Setiap hari mereka membawa 1, 2 atau 3 panci besar sup, terutama campuran daal dan zukini (zuchinni, sejenis ketimun) dan memberikannya kepada orang-orang dengan roti. Seseorang yang berkata, “Oh, aku ingin ayam; Oh, aku mau daging; Oh, aku mau ini…” mereka akan mengusirnya. Jika mereka datang untuk Allah, makanlah apa yang ada di sana. Mereka datang untuk ego, sehingga mereka harus membuat segala macam makanan. Orang-orang yang pergi ke restoran setiap hari, mereka bersikap egoistik (Tetapi bukan orang yang membuka restoran, karena itu hanyalah rezeki bagi mereka), tetapi orang-orang yang datang ke sana tidak puas dengan roti atau nasi, di mana di setiap negeri (khususnya jika kalian ingin mengatakannya negara-negara dunia ketiga), di mana berkah berada….

Alhamdulillah Allah memberkati kita semua dengan berkah-Nya tetapi berkah yang kalian temukan di negeri-negeri itu tidak dapat kalian temukan di sini. Di sana kalian dapat menjumpai orang yang makan nasi di pegunungan, mereka bisa hidup hingga 100, 110 tahun dan makanan mereka hanyalah nasi di daun pisang dan mereka sangat bahagia hanya dengan makanan yang sedikit itu. Mereka mendapat lebih banyak energi daripada orang yang makan bermacam-macam makanan. Jadi bila bicara soal makanan, itu hanyalah sesuatu ketika kalian menerima tamu dan kalian harus berbaik hati dalam menyediakan makanan. Jika kalian tidak bermurah hati, itu tidak apa-apa, karena pendapatan kalian tidak terlalu banyak, maka kalian hanya membuat sup, pasti tamunya akan mengatakan alhamdulillah…

…Nabi (s), sarapan pagi beliau adalah air hangat dengan madu, dan di waktu duha 7 butir kurma dengan air, dan di sore hari roti kering dengan minyak zaitun dan vinegar (sejenis cuka). Beliau mencelupkan rotinya ke dalam minyak dan vinegar. Itulah mekanan yang mereka makan dan lihatlah makanan yang kita makan sekarang. Dan sekarang orang-orang tidak mengucapkan alhamdulillah atau syukran lillah. Dengan berterima kasih kepada Allah, Allah akan terus mengirimkan berkah dan rezeki. Kita lupa untuk mengucapkan Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahiim di awal dan mengucapkan alhamdulillah di akhir. Jadi di Masjid Muhyiddiin ibn Arabi, di sana ada orang kaya dan orang miskin, mereka datang untuk mendapatkan berkah. Mereka meminum sup itu dan itu adalah berkah

…Di sini ada berkah di dalam sup. Awliyaullah di dalam khalwatnya tidak makan, kecuali sup. Nabi-nabi biasanya menjadi pengembala karena itu mengajarkan kesabaran, dan makanan mereka adalah sup lentil, daal. Dan Nabi (s) makan lebih sedikit lagi. Jika Nabi (s) meletakkan batu-batu untuk mengganjal perutnya dari kelaparan, bagaimana dengan kita? Siang dan malam kita harus mengucapkan syukran lillah bahwa kita mempunyai segala macam makanan, bukan hanya sup, tetapi juga makanan kecil/kudapan. Saya tidak pernah mengenal kudapan di negeri kami, seperti sereal, dan pretzel (sejenis kue dari Eropa–penerj.) dan seterusnya. Mungkin kami tinggal di hutan rimba.

[kutipan diambil dari chat log SufiLive, 15 Oktober 2011, Suhba Syekh Muhammad Hisyam Kabbani]

===

Yang berikut ini berasal dari transkrip suhbat, Who is The Guide oleh Syekh Muhammad Hisyam Kabbani:

Grandsyekh (q) berkata bahwa Sayyidina Abdul Khaliq al-Ghujdawani (q) menempatkan seorang murid di dalam khalwat selama empat puluh hari, dan mengatakan kepadanya, “Jika terjadi sesuatu yang aneh pada dirimu, katakan padaku.” Setiap hari mereka mengirimi makanan, satu mangkuk kecil lentil dalam 24 jam. Itulah makanannya, sebagai latihan. Ketika kalian makan sedikit, kalian akan terjaga, tidak bisa tidur. Mereka tidak ingin kalian tidur; mereka ingin agar kalian tetap terjaga. Ketika kalian makan terlalu banyak, kalian tidur tanpa perasaan. Kamu makan banyak? [Mawlana bertanya kepada seseorang]. Orang-orang Somalia sangat terkenal memakan domba besar yang diisi nasi dan daging. Itulah sebabnya mereka saling memakan satu sama lain di Somalia! (tertawa) Suatu hari, murid dalam khalwat itu berkata kepada Syekh Abdul Khaliq al-Ghujdawani (q), “Wahai Syekhku! Hari ini aku mengalami kejadian aneh.” Sayyidina Abdul Khaliq al-Ghujdawani (q) berkata, “Apa yang terjadi padamu?”

“Seekor tikus berbicara kepadaku dengan Bahasa Arab yang sempurna”, kata murid itu. Bagus sekali ada tikus yang bisa berbahasa Arab. Itu bagus, karena di dalam khalwat segala sesuatu bisa terjadi, jangan dipikir bahwa itu berlebihan. Syekh Abdul Khaliq al-Ghujdawani (q) berkata, “Apa yang terjadi?” “Ya Sayyidi,” kata murid itu, “Ketika engkau mengirimiku makanan, aku mulai memakannya, tetapi waktu salat tiba. Tikus ini datang dari sebuah lubang di dalam kamar dan mendatangi makanan itu lalu mulai memakannya. Aku sedang salat tetapi aku melihatnya. Aku ingin segera menyelesaikan salatku karena tikus ini memakan makananku. Segera setelah aku mengucapkan as-salamu `alaykum, aku berlari menuju tikus itu dan ia melarikan diri ke lubangnya. Kemudian aku meletakkan sehelai kertas untuk menutup lubang itu lalu melanjutkan salatku. Tikus itu mendorong kertas tadi dan kemudian melanjutkan makannya; setelah itu pergi lagi. Aku mengucapkan as-salamu `alaykum, menyelesaikan salatku dengan cepat dan mengusir tikus itu. Tikus itu pergi ke lubangnya dan mengeluarkan kepalanya lalu berbicara dalam bahasa Arab yang sempurna, ‘Wahai idiot! Apakah menurutmu jika namaku tidak tertulis untuk makanan itu, aku akan berhasil menyentuhnya?’ Wahai Syekhku, ini adalah kejadian paling aneh yang menimpa diriku.”

Sayyidina Abdul Khaliq al-Ghujdawani (q) berkata, “Wahai anakku, engkau telah gagal menjalani ujianmu, karena Amanatmu akan diberikan kepadamu, rahasiamu, tetapi engkau menghalanginya.” “Oh, aku tidak melakukan apa-apa”, kata murid itu. Syekhnya berkata, “Wahai anakku, apakah menurutmu tikus itu bisa berbicara bahasa Arab? Kau tidak boleh melihat tikusnya. Kau harus melihat siapa yang berada di belakangnya. Itu adalah aku yang berbicara kepadamu, mengatakan kepadamu bahwa engkau telah melakukan sesuatu yang salah. Kau harus membiarkan tikus itu makan karena namanya tertulis untuk memakan makanan itu. Engkau telah kehilangan Amanatmu. Aku sudah siap untuk memberikannya, tetapi para awliyaullah melarangku. Mereka menghentikan aku dan berkata, ‘Jangan, ia belum siap,’ karena engkau tidak melihatku di dalam bentuk tikus itu.”

Itu adalah hal besar. Beliau memperlihatkan kepadanya bahwa bahkan detail terkecil itu, awliyaullah, mata mereka selalu terbuka terhadap murid-muridnya. Mereka tahu apa yang terjadi. Setiap detailnya mereka tahu, tetapi kadang-kadang mereka tidak mengatakannya. Apakah kalian pikir Mawlana tidak tahu tentang kondisi AC di sini, bahwa mereka tidak menyalakannya? Awliyaullah tetap tenang. Tetapi kita mempunyai izin untuk tidak tinggal diam, kita boleh memberikan kritik. Jika tidak ada izin untuk mengkritik, kita mengunci lidah dan mulut kita. Jadi sampai sejauh ini awliyaullah mengawasi murid-muridnya. Bahkan dalam waktu mereka, dua puluh empat jam, dalam setiap saat kehidupan mereka. Grandsyekh (q) biasa mengatakan, “Ketika kalian menggerakkan tubuh kalian di tempat tidur ke kiri atau ke kanan, ketika kalian tidur; aku dapat mendengar gerakan kalian lebih keras daripada guntur. Ketika guntur datang, aku dapat mendengar gerakan murid-muridku, bahkan ketika ia berada di Timur dan aku di Barat, aku dapat mendengarnya.”

Jadi, mereka meletakkan ilmu ini di dalam kalbu kalian, untuk mengetahui larangan-larangan ini satu per satu. Mawlana Syekh Nazim, semoga Allah memanjangkan umur beliau (amiin), berkata kepada saya bahwa Grandsyekh (q) memerintahkannya untuk berkhalwat selama enam bulan di Madinatul-Munawwara. Beliau diperintahkan untuk melaksanakan kelima salat di Masjid an-Nabawi (s) di Rawdhah Syariif, jadi, beliau harus pergi lebih awal untuk setiap salat. Itu sudah lama. Tidak seperti sekarang, begitu padat di sana. Dan selama pergi ke Masjid beliau harus melihat setiap langkahnya, di mana beliau menjejakkan kakinya. Beliau tidak boleh melihatnya lebih jauh dari itu. Pergi, salat, dan kembali; lalu melanjutkan khalwatnya.

Staff
http://eshaykh.com/sufism/khalwa/

About Nazimiyya Indonesia

Naqshbandi Nazimiyya Indonesia adalah sebuah organisasi non profit yang mewadahi kegiatan jemaah Tarekat Naqsybandi Nazimiyya di Indonesia, di bawah bimbingan Mursyid Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (q) dan khalifahnya, Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q).

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: