Jangan Meremehkan Kekuatan Syekh

Mimpi:

Saya bermimpi bertemu Mevlana Syekh Hisyam Kabbani, tetapi kali ini beliau terlihat sangat muda. Banyak orang yang ingin bertemu beliau dan hanya saya yang dapat menemui dan mencium tangannya. Apakah makna dari mimpi tersebut? Terima kasih.

Interpretasi:

wa `alaykum salam,

Melihat Mawlana sangat muda maksudnya bahwa Anda terhubung dengan maqamnya, posisi spiritual, pada usia muda, ketika beliau berjuang di jalan ini melalui mujahadat an-nafs, memerangi ego, misalnya dengan melakukan salat sunah, zikir, membaca Kitab Suci al-Qur’an, maulid, puasa, `i’tikaf, khalwat dan seterusnya, sebelum beliau mencapai al-kamal, keadaan yang sempurna, dan ini adalah sebuah indikasi untuk mengikuti mujahada untuk mendekati Hadirat Ilahi melalui perbuatan-perbuatan yang serupa. Hanya Anda di antara sekian banyak orang yang dapat bertemu dengannya, menandakan al-Maqam al-Fardani, suatu maqam yang Unik, untuk Anda, sebagaimana Mawlana Syekh Hisyam Kabbani berkata di dalam sebuah shuhbat pada tanggal 8 November 2008:

Grandsyekh `Abdullah al-Fa’iz ad-Daghestani (q) berkata, al-wali min ahl al-aza’im, awliyaullah adalah dari orang-orang yang berjuang dengan keras. Mereka harus mengambil level terberat bagi diri mereka tetapi untuk murid-muridnya, mereka memberikan jalan yang termudah.

Beliau berkata bahwa, “Menurut level mereka, Allah akan membukakan bagi mereka al-Maqam al-Fardani, suatu Makam yang unik.” al-Maqam al-Fardani, adalah sebuah makam yang unik (khas), dan untuk setiap wali, ada sebuah maqam yang unik bagi wali itu. Dan di atas mereka semua, kalian akan sampai pada Sultan al-Awliya, Sang Ghawts. Ia mempunyai al-Maqam al-Fardani tertinggi sebagaimana yang digambarkan oleh ibn `Arabi di dalam Futuhat-nya, bahwa Nabi (s) (diibaratkan) adalah dinding emas dan di sisi lain menghadapnya adalah Sultan al-awliya yang merupakan dinding perak. Itu artinya bahwa Sultan al-Awliya selalu menghadap Sayyidina Muhammad (s) dan menerima darinya untuk dikirim kepada seluruh wali lainnya. Dan jangan mengatakan bahwa hanya ada wali di Naqsybandi. Ada 124,000 wali. Orang ini, yang duduk di sampingmu adalah seorang wali [Menunjuk pada Mawlana Abdus Sattar Khan]. Orang-orang di Chicago datang kepadanya, Allah menerima doanya.

Jadi orang yang berada di dalam lingkaran al-Maqaam la-Fardani akan berada di dalam lingkaran Nabi (s). Dan beliau berkata bahwa, “suatu ketika”, dan saya mengutip Grandsyekh di dalam kisah yang beliau ceritakan. Di desa beliau ada seorang pengusaha kaya raya di daerah Daghestan. Mawlana masih muda ketika itu. Ada seorang yang kaya yang ingin pergi haji. Jadi pertama mereka pergi dengan unta hingga mencapai laut dan kemudian melanjutkan perjalanannya dengan kapal laut hingga sampai ke Jeddah, lalu dari Jeddah ke Mekah. Ia ditemani oleh seseorang dan orang itu termasuk awliyaullah, ia adalah seorang wali. Jadi orang kaya itu berkata, “Engkau adalah pendampingku. Aku akan membiayai semua kebutuhanmu, pergilah bersamaku.” Wali itu telah mencapai Maqam al-Fardani, salah satu dari Maqam yang unik.

Ketika kalian menemani seorang wali, jangan berpikir itu akan menjadi mudah. Lebih baik untuk tidak menyertainya sekarang, karena kalian datang dan pergi, itu tidak akan mudah. Wali itu ingin memastikan bahwa haji kalian diterima. Itulah sebabnya dikatakan bahwa ada tiga hal yang harus ditanyakan kepada Syekh kalian. Pertama adalah ketika kalian ingin menunaikan ibadah haji, kalian harus menanyakannya kepada syekh kalian, apakah ia memberikan izin atau tidak. Karena tidak setiap saat Allah mengirimkan rahmat-Nya atau tajali-Nya kepada orang-orang di Arafat. Karena haji adalah Arafat. Ketika kalian berdiri di Arafat, itulah haji, walaupun kalian tidak mengikuti yang lainnya, itu akan menjadi tidak lengkap, tetapi kalian tetap akan disebut haji. Jadi mereka (para awliya) melihat di Loh Mahfuz untuk mengecek, “Apakah tahun ini Allah akan mengirimkan Tajali Asmaul Husna wal Sifat-Nya?” Jika tidak, mereka akan mengatakan kepada kalian, “Jangan pergi.” Mereka mengatakan, “Pergilah tahun depan.” Tetapi bila kalian belum pernah (pergi haji), maka kalian harus pergi (pada saat ada kesempatan). Karena itu adalah suatu kewajiban. Tetapi ketika kalian mulai bisa pergi lebih sering, maka kalian harus bertanya kepada syekh kalian, karena itu (menunaikan haji) bukan lagi merupakan suatu kewajiban.

Juga ketika kalian ingin menikah, kalian mungkin telah jatuh cinta dengan seseorang, tetapi kalian harus menanyakannya kepada syekh karena bisa saja orang itu bukanlah yang tertulis untuk kalian. Dan ketika kalian ingin bermigrasi dari satu tempat ke tempat yang lain, kalian juga harus bertanya. Kalian tidak bisa pergi tanpa bertanya, terhadap ketiga hal tersebut.

Jadi ketika orang kaya tadi berkata, “Aku ingin engkau menemaniku pergi haji.” Dan ia berkata, “ya,” lalu ia membawanya dan berangkatlah mereka. Dalam perjalanan mereka menggunakan kapal laut. Orang itu, seperti sekarang ketika kalian membawa paspor dan uang, apa yang kalian lakukan? Kalian menyembunyikannya—kalian tidak ingin kehilangannya. Setiap orang menjaga uang mereka. Begitu pula orang kaya yang bersama syekh tadi. Syekh itu berasal dari tarekat Naqsybandi, dari silsilahnya Grandsyekh. Ada 7007 syekh. Tidak semua membawa rahasia dari jalur utamanya. Mungkin ada satu syekh utama dan ada lima atau sepuluh yang syekh itu berikan rahasianya untuk melakukan pekerjaan di sini dan di sana. Jadi syekh itu bertanya, “Di mana engkau menyimpan uangmu?” Ia berkata, “Aku menyimpannya di dadaku dan aku mengikatnya di pakaianku. Aku tidak ingin kehilangannya.” Lalu syekh itu berkata, “Berikan kepadaku—aku akan menjaganya.” Tetapi orang itu tidak mau memberikannya kepada wali itu.

Kadang-kadang kita membuat kesalahan. Jika seorang wali meminta sesuatu kepada kalian, jangan katakan, “tidak!” Allah akan menyelamatkan kalian dari berbagai kesulitan yang kalian tidak ketahui.

Jadi syekh itu berkata, “Berikan kepadaku; aku akan menyimpannya untukmu.” Ia berkata, “Tidak, aku menyimpannya di tempat yang aman,” Syekh lalu berkata, “Baiklah, terserah padamu.” Kemudian mereka menaiki kapal. Ini adalah salah satu kapal-kapal besar yang digunakan untuk pergi ke Jeddah, 90 tahun yang lalu. Seseorang mempunyai monyet di kapal itu. Ia membawanya pergi ke Jeddah, barangkali ia ingin tinggal dan memeliharanya di sana, Allah Maha Mengetahui. Tiba-tiba entah darimana monyet itu melompat ke orang kaya itu dan mencuri uang dari orang itu lalu pergi ke sur, tiang kapal itu. Tidak seorang pun yang dapat menjangkaunya. Kemudian ia membuka tempat penyimpanan uang itu, dan di sana ada 1000 koin emas. Satu koin emas dilemparkannya kepada orang itu, dan satu koin emas ia lemparkan ke laut. Satu kepada orang itu, dan satunya lagi ke laut. Orang itu menangis karena uangnya hilang. Satu ia dapatkan, dan satunya lagi hilang ke laut, begitu seterusnya sampai habis. Jadi 500 hilang ke laut dan 500 lainnya ia dapatkan.

Orang itu sangat marah, ia bersama istrinya saat itu dan ia sangat marah. Wali itu berkata, “Mengapa engkau marah?” “Kau tidak lihat apa yang terjadi?” Ia berkata, “Ok, apa yang terjadi itu baik. Tetapi lihatlah, tidak ada yang terjadi tanpa Kehendak Allah. Dan jangan terlalu banyak bicara, atau kalau tidak aku akan menjauh darimu.” Orang itu menjadi khawatir karena ia tahu bahwa syekh itu adalah seorang wali.

Ketika mereka bicara seperti itu, orang itu masih marah tetapi wali itu membaca beberapa wirid dan ia mengajarkannya kepada istri orang itu yang mendengarnya dan ia bertanya kepadanya, “Apa yang kau pelajari?” Ia bertanya, “Dapatkah aku membacanya?” Kemudian …pada saat orang kaya itu berdebat dengan syekh, wanita itu mengambil wudu, tetapi ia tergelincir dan jatuh ke laut. Jadi lihatlah, bila kalian ingin menyertai syekh, itu akan sulit. Itulah sebabnya mereka berkata, “Jika kalian ingin berada dekat dengan syekh, itu akan seperti dekat dengan api.”

Jadi, apa yang terjadi? Wanita itu lenyap. Mereka mencarinya, mereka menghentikan kapal itu dan mencarinya, tetapi tidak dapat menemukannya. Jadi orang itu pun menangis. Ia kehilangan istrinya dan kehilangan uangnya. Ia berteriak, “Syekh macam apa kau? Wali macam apa kau? Mengapa aku membawamu?”

Mengapa saya menceritaka kisah ini? Dokter-dokter ini, mereka tidak mengerti tentang pengobatan ala Nabi. Mereka mengatakan, “tidak” pada Pengobatan ala Nabi: “Mengapa harus memakan ini atau itu?” Mereka tidak tahu, mereka tidak lagi bijaksana. Di masa lalu, dokter lebih bijak. Bahkan Mullah `Ali al-Qari dan yang lainnya, menemukan detail terkecil untuk memuji Nabi (s), tetapi sekarang mereka berusaha untuk menemukan detail terkecil untuk menjatuhkan Nabi (s).

Jadi apa yang terjadi? Pengusaha itu kafara, menyangkal. Bukan berarti bahwa ia menyangkal keberadaan Allah, tetapi kita di sini mengatakan kafara dalam bahasa Arab, dalam arti bahwa ia merasa muak dengan syekh. Ia tidak ingin melihatnya lagi.

Syekh tidak mengatakan apa-apa dan kapal pun meneruskan perjalanannya. Mereka lalu mencapai pelabuhan dan orang-orang pun turun dari kapal. Lihat, pengusaha itu melihat istrinya. Di samping kapal, di dermaga. Ia sangat gembira melihat istrinya. Ia menemuinya dan berkata, “Aku bahagia bertemu denganmu. Bagaimana engkau … kau jatuh di laut, apa yang terjadi?” Ia berkata, “Tanyalah pada syekh.” Kini ia menyadari bahwa ia telah berbuat kesalahan. Mengapa istrinya mengatakan untuk bertanya dengan syekh? Itu artinya ia melihat sesuatu yang berasal dari syekh itu, sehingga ia berkata, “Tanyakan pada wali itu, tanyakan pada syekh!”

Ia lalu mendatangi syekh dan berkata, “Ya Sayyidii!” Kini ia berkata, “Ya Sayyidii!” Sebelumnya ia menyangkalnya. Ia berkata, “Aku masih marah karena aku kehilangan uang, tetapi kini aku senang bertemu dengan istriku.”

Jangan meremehkan kekuatan awliyaullah. Jangan mengatakan, “Mengapa kita tidak melihat keajaiban-keajaiban lagi?”

Ini adalah Abad Jahiliyah. Itulah yang dikatakan oleh Nabi (s) bahwa, “Ketika ketidakpedulian telah memenuhi bumi maka Allah akan mengirimkan salah satu cucuku untuk mengeluarkan ilmu.” Awliyaullah hadir, tetapi lidah mereka terkunci. Mereka tidak bisa berbicara. Jika mereka bicara, bicaranya diacak. Allah mengubah lidah mereka. Jika mereka ingin bicara, “Aku melihat Sayyidina Mahdi dan ia berada di ruangan ini dan ia memerintahkan deputinya untuk berada di sini untuk mendengarkan shuhbat,” maka perkataan wali itu akan diacak sehingga apa yang ia katakan akan seperti membaca Qur’an atau membaca hadis. Ia mengatakan hal itu tetapi orang-orang akan mendengar sesuatu yang berbeda sepenuhnya. Itulah sebabnya di dalam asosiasi yang sama, orang-orang mendengar syekh dengan berbeda-beda. Mereka mendengar dengan kode yang berbeda dan panjang gelombang yang berbeda, itulah sebabnya apa yang mereka dengar menjadi berbeda.

Jadi wali itu berkata, “Wahai saudaraku. Aku belajar dari syekhku dan ia belajar dari syekhnya dan ia mempelajarinya dari syekhnya, [dalam suatu silsilah] dan hingga mencapai Nabi (s), bahwa jika seseorang ingin menempuh suatu perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain dengan kapal atau unta, di mana ada banyak makhluk di jalan-jalan ini. Mereka bisa berupa makhluk surgawi dan bisa juga makhluk duniawi. Ada banyak binatang, sebagian adalah binatang peliharaan dan yang lainnya adalah binatang buas. Dan ada banyak… bisa jadi mereka adalah tiran. Namun bila kalian membaca ‘Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahim dzalika taqdir al-`azizu ’l-hakim’ Allah akan menjagamu, bahkan jika kapal itu tenggelam, Allah akan mengirimkan malaikat khusus untuk membawamu ke tepi.”

Itulah sebabnya Grandsyekh dan Mawlana Syekh berkata, “Ketika kalian ingin bepergian dengan kapal atau pesawat, bacalah ‘Bismillahi ‘r-Rahmani ‘r-Rahim dzalika taqdir al-`azizu ’l-hakim’ dan Allah akan mengirimkan malaikat untuk melindungi kalian. Dan pada wirid itu ada malaikat yang bertanggung jawab bagi orang yang membacanya.”

Syekh itu berkata, “Aku mengajarkan (wirid) itu kepadanya untuk dibaca dan ia membacanya setiap hari dan ketika ia terjatuh, ia melihat malaikat datang dan mengeluarkannya dari laut.”

Dan wanita itu berkata, “shadaqa asy-syekh – Syekh mengatakan kebenaran,” Syekh berkata, “Jika aku tidak bersamamu, istrimu sudah meninggal sekarang. Itulah pertolongan pertama yang aku lakukan untukmu. Yang kedua, engkau datang untuk menunaikan haji tetapi engkau berhutang pada Allah karena engkau tidak membayar zakatmu. Jadi agar hajimu diterima, engkau harus membayar zakatmu. Engkau tidak melakukannya dengan sukarela, jadi kami mengirimkan monyet itu untuk mengambil uang itu dan mengirimkan haknya Allah ke dalam laut dan memberi apapun yang seimbang untukmu.”

“Itulah hal kedua yang membuat hajimu diterima.”

Dan Allah Maha Mengetahui,

Taher Siddiqui

http://eshaykh.com/dreams/dream-again-met-with-mevlana-shaykh-hisham-kabbani/

About Nazimiyya Indonesia

Naqshbandi Nazimiyya Indonesia adalah sebuah organisasi non profit yang mewadahi kegiatan jemaah Tarekat Naqsybandi Nazimiyya di Indonesia, di bawah bimbingan Mursyid Mawlana Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani (q) dan khalifahnya, Mawlana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani (q).

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: